Agar jejak-jejak sejarah tersebut tetap terpelihara sepanjang masa, terdapat kontribusi diam-diam dari mereka yang melestarikan artefak kertas yang berkaitan dengan Revolusi Agustus dan Hari Nasional (2 September). Bagi mereka, benda-benda tersebut bukan sekadar benda kenangan, melainkan memori seluruh bangsa agar generasi masa kini dan masa depan dapat lebih memahami sejarah.

Di dalam rumahnya di Kecamatan Nam Dinh, Provinsi Ninh Binh (Vietnam Utara), Bapak Nguyen Phi Dung menyediakan satu ruangan khusus untuk menyimpan berbagai koran cetak yang diterbitkan sebelum tahun 1954. Pernah diakui oleh Organisasi Rekor Vietnam sebagai kolektor koran cetak dengan jumlah koleksi terbanyak, Bapak Dung kini menyimpan lebih dari 400.000 koran berbagai jenis, termasuk lebih dari 200 yang berkaitan dengan Hari Kemerdekaan. Di antaranya, koran Doc Lap (Kemerdekaan) edisi pertama yang diterbitkan pada 4 September 1945 dan edisi kedua yang diterbitkan pada 7 September 1945 dinilai sebagai artefak yang paling langka dan berharga. Bapak Nguyen Phi Dung menuturkan:

“Koran Doc Lap edisi pertama dan edisi kedua sama-sama memberitakan upacara Hari Nasional Vietnam. Melalui koran tersebut, kita mengetahui bahwa sejak pukul 11 pagi, sekitar 500.000 warga dari berbagai penjuru kota dan pinggiran kota berdatangan ke Lapangan Ba Dinh untuk menghadiri upacara tersebut. Koran tersebut juga mencatat dengan sangat jelas bahwa upacara pengibaran bendera dimulai pada pukul 2 siang. Ini merupakan salah satu detail yang mungkin masih belum banyak diketahui oleh masyarakat sekarang.”

Untuk menjaga dan meningkatkan nilai artefak tersebut, selama beberapa tahun terakhir, Bapak Dung telah memasang AC dan mesin penurun kelembaban di ruang pamerannya. Khusus untuk yang sangat langka dan berharga, ia membungkus setiap lembar dengan plastik, menggulungnya, kemudian menyimpannya dengan hati-hati di dalam lemari kaca. Kolektor koran cetak Nguyen Phi Dung mengatakan:

“Karena melewati masa perang serta terpapar cuaca dan iklim, banyak koran yang kondisinya rusak, justru karena itulah nilainya semakin tinggi. Dan sampai saat ini, saya merasa sangat beruntung dan ‘berjodoh’ bisa memiliki koran-koran tersebut. Melalui peristiwa-peristiwa bersejarah bangsa yang tercatat di dalamnya, kita dapat mengetahui banyak detail kecil yang bahkan mungkin belum diketahui oleh masyarakat sekarang.”

Tidak hanya kolektor pribadi, Museum Provinsi Ninh Binh juga menyimpan lebih dari 200 artefak kertas yang berkaitan dengan Hari Kemerdekaan. Kegiatan inventarisasi di sini bukan sekadar menghitung jumlah koleksi, melainkan juga harus memenuhi persyaratan teknis yang ketat. Setiap kali artefak dipindahkan, staf harus menyiapkan permukaan yang rata, membentangkan lembaran plastik dan kertas penyerap asam untuk mencegah kontaminasi bakteri. Petugas inventarisasi juga harus mengenakan pakaian khusus, masker dan sarung tangan agar keringat tidak merusak artefak.

Pham Thi Loan, Wakil Kepala Departemen Inventarisasi dan Pelestarian, Museum Provinsi Ninh Binh, mengatakan:

“Kami tidak hanya menghitung jumlah artefak, tetapi juga harus memperhatikan kondisinya. Kami memeriksa kerusakan benda akibat serangga, sobekan, perubahan ukuran, atau tulisan yang memudar agar kami dapat mengambil tindakan untuk melindunginya..”

Di ruang teknik pengawetan, artefak kertas mengalami berbagai tahapan penanganan, seperti perataan, penghilangan debu, dan penghilangan kerutan menggunakan setrika kecil. Setiap tahapan tersebut membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi. Nguyen Man The, Kepala Tim Teknik Pengawetan Artefak di Museum Provinsi Ninh Binh, menuturkan:

“Untuk artefak kertas yang robek, kami menggunakan metode perekatan. Sementara itu, untuk benda yang tulisannya memudar, hilang, atau motifnya rusak, kami berkoordinasi dengan para seniman dan pelukis untuk merekonstruksi detail-detail yang telah hilang. Dengan metode-metode tersebut, Museum Provinsi Ninh Binh telah berhasil mengawetkan banyak artefak kertas yang berkaitan dengan Hari Kemerdekaan dan Presiden Ho Chi Minh.”

Tulisan-tulisan dan foto-foto di koran cetak, meskipun menguning seiring dengan berjalannya waktu, tetap berkontribusi dalam melestarikan kenangan sejarah, agar Revolusi Agustus dan Hari Nasional 2 September tetap hadir, hidup, dan penuh kebanggaan dalam ingatan generasi-generasi masa depan.