Meskipun sibuk dengan tugas pengelolaan kecamatan perbatasan, ia selalu memanfaatkan waktu luang untuk turun langsung bersama tim evakuasi demi mencari dan mengembalikan kerangka para martir.

Dengan cepat ia membersihkan sisa tanah merah lengket di pakaiannya, lalu mengoleskan kapas pada gigitan lintah yang masih berdarah di kakinya. Sambil berbincang dengan kami, Bapak Le Manh Dung kemudian mengangkat secangkir teh panas yang baru saja dituangkan. Kepala pemerintahan kecamatan tersebut baru saja kembali dari perjalanan bersama Tim Evakuasi Kerangka Martir Provinsi Tuyen Quang ke Puncak 685. Perjalanan itu penuh rintangan dan bahaya, namun baginya membawa kebahagiaan mendalam karena tim berhasil menggali dan memulangkan kerangka seorang martir ke rumah duka.

“Pada Juli 2025, saya ditugaskan ke sini sebagai Wakil Sekretaris Komite Partai Komunis sekaligus Ketua Komite Rakyat Kecamatan Thanh Thuy. Baru tiga hari bertugas, saya mendapat kabar bahwa Tim Evakuasi telah menemukan tiga kerangka martir. Saya pun langsung bergerak bersama tim menuju lokasi penemuan kerangka martir. Tiba di sana, hati saya tersentuh saat melihat kondisi kerangka yang tidak lagi utuh – hanya tersisa serpihan tulang kecil bercampur tanah. Sejak saat itu, saya sering mendampingi anggota tim evakuasi dalam setiap proses pencarian.”

Sejak Provinsi Tuyen Quang melaksanakan Kampanye 500 hari siang dan malam pencarian, pengumpulan dan identifikasi kerangka martir, Bapak Le Manh Dung selalu menyempatkan diri untuk turun ke lapangan bersama tim evakuasi di sela-sela kesibukannya. Di usianya yang kini menginjak 55 tahun, langkah kaki Ketua Komite Rakyat Kecamatan ini telah menapaki tebing-tebing terjal dan celah-celah gunung yang sempit, wilayah tempat bom, ranjau, dan sisa bahan peledak masih tersembunyi di balik tebalnya lapisan daun busuk setelah puluhan tahun.

Kehadiran kepala pemerintahan daerah di puncak-puncak yang dahulu merupakan medan pertempuran tidak hanya memberikan dukungan moral, tetapi juga menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara tentara dan rakyat. Letnan Kolonel Tran Quang Huy, Ketua Tim Evakuasi Martir, Komando Militer Provinsi Tuyen Quang, mengatakan:

“Ketua Komite Rakyat Kecamatan Thanh Thuy menaruh perhatian khusus terhadap pencarian dan pengumpulan kerangka para martir. Ia tidak hanya sering memberikan semangat kepada anggota tim, tetapi juga rutin turun langsung ke lapangan umtuk mendampingi kami dalam proses evakuasi kerangka martir dari puncak-puncak gunung menuju ke rumah duka.”

Tidak hanya menembus hutan, Bapak Dung juga berharap dapat menemukan kerangka martir hingga ke setiap dusun. Di Dusun Nam Ngat, di sela-sela perbincangan hangat warga setelah bekerja di huma, ia mendengarkan kisah-kisah pertempuran masa lalu. Warga dusun tidak hanya berbagi informasi, tetapi juga siap menjadi penunjuk jalan bagi tim evakuasi di tengah pegunungan. Trang Van Nghiet, warga Dusun Nam Ngat, Kecamatan Thanh Thuy, Provinsi Tuyen Quang, mengatakan:

“Setiap kali ada rapat dusun, Pak Dung selalu memberikan perhatian dan arahan mengenai pencarian kerangka martir. Ia mengimbau jika ada yang mengetahui lokasi kerangka martir, segera melaporkannya kepada pemerintah kecamatan.”

Bagi Bapak Le Manh Dung sendiri, partisipasinya dalam Kampanye 500 Hari Siang dan Malam pencarian, pengumpulan dan identifikasi kerangka martir bukan sekadar dukungan kepada tim yang bertugas. Lebih dari itu, ini adalah caranya mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada para pahlawan dan martir yang telah gugur demi kedamaian tanah air.

“Setiap kali ikut dalam perjalanan mengembalikan kerangka martir, saya selalu mengatakan kepada para pejabat di kecamatan bahwa ketika menemukan kerangka martir, hati saya terasa lega. Setiap perjalanan tersebut merupakan pengalaman yang membuat kita menyadari bahwa para leluhur telah berkorban untuk mempertahankan setiap bukit, gunung, dan jengkal tanah, sehingga kita dapat menikmati perdamaian seperti sekarang”.

Kampanye 500 Hari Siang dan Malam Pencarian, Pengumpulan dan Identifikasi Kerangka Martir terus berlanjut di lereng-lereng pegunungan berselimut kabut di Kecamatan Thanh Thuy. Mimpi terbesar Bapak Le Manh Dung dan warga setempat begitu sederhana: Mudah-mudahan, seluruh pahlawan dan martir yang masih terbaring di tengah pegunungan segera ditemukan dan dapat dikembalikan ke kampung halaman. Selain itu, mereka berharap belantara di wilayah perbatasan ini kelak benar-benar bebas dari bom dan ranjau, sehingga masyarakat berbagai etnis di Thanh Thuy dapat bertani dengan tenang, dan kehidupan baru dapat tumbuh dengan damai dan hijau di daerah pegunungan perbatasan Tanah Air./.