Namun, di balik gerbang Pusat Santunan Korban Agen Oranye dan Anak-Anak Kurang Beruntung Cabang 1 Kota Da Nang, penderitaan tersebut perlahan terobati berkat kesabaran dan ketulusan hati para guru.

“Selamat pagi, Bu.”

“Baik! Selamat pagi. Sekarang simpanlah barang-barangmu di dalam loker, ya.”

“Ya, Bu.”

***

“Selamat pagi, Bu.”

“Selamat pagi. Apakah Nguyen senang hari ini?”

“Senang Bu.”

“Oh, senang, ya. Selamat pagi. Nah, sekarang masuklah ke dalam kamar dan simpanlah barang-barangmu di loker.”

Untuk dapat mengucapkan kata “chào cô” (Selamat pagi, Bu), anak-anak korban Agen Oranye/dioksin harus berupaya sangat keras. Meski kata-kata mereka masih belum jelas, suara-suara polos itu menjadi irama hangat yang mengawali hari baru di Pusat Santunan Korban Agen Oranye dan Anak-Anak Kurang Beruntung Cabang 1 di Kota Da Nang. Setiap pagi, saat menyambut kedatangan anak-anak, para guru mengamati setiap tatapan mata dan ekspresi wajah masing-masing anak dengan saksama. Ibu Guru Phan Thi Thanh mengatakan:

“Mereka hanya bisa menunjukkan perasaan senang atau sedih. Kami harus memahami pikiran setiap anak setiap pagi. Jika ada hal-hal yang ingin mereka ceritakan atau hal-hal yang membuat mereka merasa kesal, mereka sering membagikannya kepada ibu guru. Kami menempatkan diri pada posisi mereka untuk bisa memahami perasaan mereka.”

Suara bel masuk kelas yang berirama memecah keheningan. Sebagai salah satu dari tiga fasilitas di Kota Da Nang yang merawat korban Agen Oranye/dioksin, pusat tersebut saat ini mengasuh 43 anak dengan sistem semi-asrama. Sebagian besar siswa mengalami disabilitas intelektual, termasuk sindrom Down, sementara beberapa lainnya mengalami disabilitas fisik. Di sini, anak-anak tidak hanya mendapatkan proses rehabilitasi, tetapi juga berlatih menulis huruf demi huruf, membuat bunga dari kain, hingga membuat dupa.

Perjalanan mengajarkan huruf dan keterampilan kerja di pusat tersebut penuh dengan tantangan bagi para guru. Akibat dampak berat Agen Oranye/dioksin, sebagian besar anak mengalami kesulitan dalam menerima pelajaran. Mereka sulit berkonsentrasi dan membutuhkan waktu lama untuk mengingat, tetapi cepat lupa. Ho Thi Trieu, 33 tahun, salah satu dari sedikit korban Agen Oranye/dioksin di pusat tersebut yang mampu berkomunikasi, dengan bangga memamerkan celana yang baru saja selesai dijahitnya.

“Saya senang bersekolah, senang menjahit celana. Sudah dua bulan ini saya berhasil membuat celana pendek. Saya menjahitnya untuk dipakai teman. Saya menjahitkan celana pendek untuk Ngan. Guru mengajari saya menjahitnya untuk Adik Duyen dan Adik Trieu.”

Tak jauh dari bengkel jahit, terdapat kelas pembuatan dupa yang dipenuhi aroma harum tanaman herbal. Sosok yang berdiri di depan kelas untuk mengajarkan cara meratakan bubuk dupa tersebut juga merupakan korban Agen Oranye/dioksin, yakni Nguyen Ngoc Phuong.

“Saya membagikan cara membangun kepercayaan diri kepada para siswa. Saat belajar dan menekuni keterampilan seperti ini, anak-anak berhasil menghasilkan sebuah produk. Ketika ada pelanggan yang datang untuk membelinya, mereka merasa sangat senang. Oleh karena itu, saya harus terus menyemangati mereka agar selalu percaya diri. Hasil hari ini mungkin belum bagus, tetapi besok akan lebih baik. Hari ini mungkin belum sempurna, tetapi besok bisa menjadi lebih baik.”

Bunga-bunga kain yang dibuat secara teliti dan dupa beraroma tanaman herbal hasil karya tangan anak-anak telah menjadi produk yang bermakna. Produk-produk ini dijual untuk menggalang dana pendukung kegiatan perawatan korban Agen Oranye/dioksin. Lebih membanggakan lagi, melalui kelas-kelas tersebut, beberapa siswa telah tumbuh dewasa dan dengan percaya diri kembali ke kampung halaman untuk berbaur dengan masyarakat. Vo Thi Thu, Wakil Direktur Pusat tersebut, mengatakan:

“Banyak siswa belum sepenuhnya menyadari perilaku mereka sendiri. Kami berharap mereka sehat dan belajar berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan hidup mandiri. Baru-baru ini, salah seorang siswa berhasil berbaur dengan masyarakat dan bekerja sebagai penjahit di sebuah perusahaan. Bagi kami, itulah keberhasilan terbesar.”

Belum pernah ada kelas untuk anak-anak korban Agen Oranye/dioksin yang terisi penuh seperti ini. Rasa sakit berkepanjangan dan kondisi fisik yang lemah membuat banyak anak sering kali terpaksa absen. Namun, kasih sayang dan kesepenuhan hati para guru bagaikan aliran air sejuk yang meredakan rasa sakit mereka. Kasih itu dibalas dengan senyum polos dan berseri-seri di wajah anak-anak setiap hari. Senyuman yang perlahan menyalakan harapan akan masa depan yang lebih baik.