Pada akhir pekan, dari puncak-puncak gunung yang diselimuti kabut, masyarakat etnis-etnis Thai, Mong dan Dao dari berbagai desa di Chieng Hac memikul dan menggendong beragam hasil bumi menuju tempat berkumpul favorit bagi mereka – Pasar Berkala Muong Lum. Terletak di tepi sawah yang harum aroma padi, di sepanjang jalan yang bersemarak dengan warna-warni bendera berderet kios yang kental dengan identitas khas daerah pegunungan. Semua itu merupakan hasil kerja masyarakat setempat, yang menanam, merawat, memanen, dan kemudian memproses hingga mengolahnya secara mandiri menggunakan pengalaman turun-temurun. Oleh karena itu, setiap kios bukan sekadar tempat jual beli, melainkan juga “dapur”, “sebidang tanah” dan bagian dari kehidupan sehari-hari yang dihadirkan ke pasar.

“Semua yang saya jual ini buatan sendiri. Jambu bijinya saya tanam sendiri, kue “Chưng” saya bungkus sendiri, dan berasnya pun saya giling sendiri. Kalau semua dagangan sudah dijual habis, barulah saya pulang. Kadang lebih awal, kadang lebih larut. Namun, kalau dagangan belum habis terjual, saya belum akan pulang.”

Pasar berkala yang diselenggarakan oleh Kecamatan Chieng Hac kali ini mengusung tema “Về miền nhớ thương” atau “Kembali ke Bumi Kenangan”, dengan skala yang lebih besar, lebih ramai, dan lebih semarak. Pasar tetap digelar di lokasi yang sudah dikenal masyarakat, tetapi kali ini ada puluhan kios tambahan yang menampilkan warna dan ciri khas masing-masing dusun. Beragam hasil pertanian dan peternakan khas daerah pegunungan dijajakan, mulai dari sayuran segar, umbi-umbian, buah-buahan, hingga daging babi dan ayam.

Setiap hasil bumi yang dijual di pasar ini membawa cerita tentang tanah, musim panen, serta daya kerja keras masyarakat di daerah pegunungan. Dengan penuh semangat memperkenalkan hasil bumi dari daerahnya, Song A Lau, warga Dusun Dao, Desa Chieng Hac, dengan cepat terus mengisi kembali barang pada kiosnya yang mulai kosong, agar para pembeli tidak perlu menunggu:“Kalau berjualan di pasar seperti ini, semua dagangan pasti terjual habis, tidak ada sedikit pun yang dibawa pulang. Di Dusun Dao, warga menanam berbagai jenis hasil pertanian, hampir setiap keluarga punya jagung, semangka, kacang-kacangan, labu, terung bulat kecil, labu siam, dan lain-lain. Setelah diproduksi, tentu kami ingin menjualnya dan memperkenalkannya kepada lebih banyak orang. Oleh karena itu, kami sangat senang dengan adanya pasar seperti ini. Hasil pertanian warga bisa terjual. Melalui pasar ini, kami juga bisa memperkenalkan produk kepada masyarakat, sehingga setelah mencobanya, mereka bisa memesan langsung kepada warga di dusun kami”.

Berpadu dengan udara pagi yang sejuk di kawasan pegunungan, terhirup aroma nasi ketan, ikan bakar, kue “Chưng”, daging kering asap yang digantung di atas tungku dapur, dan berbagai hidangan lainnya. Makanan yang selama ini akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, kini menjadi cita rasa yang menarik wisatawan. Pham Quang Trung, yang datang dari Provinsi Thanh Hoa dan untuk pertama kalinya merasakan suasana pasar berkala di daerah pegunungan, mengatakan: “Saya sangat menyukai hidangan-hidangan dengan cita rasa lokal yang begitu khas. Saya juga membeli banyak makanan khas, termasuk berbagai macam sayuran dan buah-buahan, untuk dibawa pulang bagi keluarga saya dan sebagai oleh-oleh untuk teman-teman.

Di Muong Lum, pasar berkala juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali budaya tradisional masyarakat setempat. Tepat di samping pohon beringin bersejarah Nong Luong, tempat berdirinya resor Partai Komunis pertama di bekas Kabupaten Yen Chau pada tahun 1948, terlihat para pria lanjut usia yang duduk dengan tenang sambil menganyam. Sementara itu, para lanjut usia duduk di depan alat tenun, tekun menyusun helai demi helai benang. Tangan-tangan mereka yang telah begitu banyak menjalani musim bercocok tanam dan musim panen padi tetap bergerak cepat dan terampil, menghasilkan kain tradisional “Piêu”, keranjang, kursi rotan, atau alat penangkap ikan.

Dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti seikat sayuran, seekor ayam, selembar kain, hingga kemeriahan lomba menumbuk kue tradisional “dày” serta permainan gasing tradisional, kisah tentang kehidupan sehari-hari, aktivitas produksi, serta kekayaan budaya masyarakat diceritakan dengan cara yang paling dekat dan alami di Pasar berkala Muong Lum.

Muong Lum kini berkembang menjadi salah satu produk budaya dan pariwisata yang khas, sekaligus membuka lebih banyak peluang untuk menghubungkan dan menarik berbagai sumber daya investasi guna mengembangkan pariwisata. Ketua Komite Rakyat Kecamatan Chieng Hac, Cao Xuan Dung, mengatakan:“ Kecamatan kami menetapkan pengembangan potensi lokal sebagai salah satu prioritas. Oleh karena itu, rangkaian kegiatan ini merupakan wujud pelaksanaan kebijakan dan arah pembangunan desa. Tujuannya agar masyarakat di kawasan ini mengubah pola pikir, serta mentransformasikan identitas dan budaya mereka menjadi nilai ekonomi.”

Di Muong Lum, setiap kios, hasil bumi dan hidangan, serta setiap kisah warga dan jemari yang dengan tekun melestarikan kerajinan dan identitas budaya mereka, menjadi cerminan sebuah daerah yang tengah berkembang dari kesederhanaan. Pasar tradisional Muong Lum tidak lagi sekadar menjadi bagian dari kenangan, melainkan dihidupkan kembali menjadi “bumi penuh kenangan”, sebuah destinasi baru bagi wisatawan pencinta kawasan pegunungan.