Upacara Memohon Hasil Panen masyarakat Ba Na tahun ini diselenggarakan di Rumah Budaya Komunitas Desa Xi Thoai pada tanggal 25 Juli. Sejak pagi hari, pohon “Nêu” (sebuah pohon ritual) telah didirikan di halaman. Di sampingnya terdapat sebuah panggung upacara dengan sesajian persembahan kepada para dewa, termasuk: guci anggur, sirih, ekor babi, ekor ayam, sepanci nasi, dan lain-lain. Setelah seluruh persiapan selesai, kelompok seniman penabuh gendang ganda, tiga gong, dan lima bonang melakukan ritual untuk mengundang para dewa sekaligus menyerukan masyarakat agar berkumpul di area desa. Mengenakan pakaian tradisional, pemimpin upacara bersama para asistennya, memasuki area upacara. Upacara Memohon Hasil Panen masyarakat Ba Na pun resmi dimulai.

Dalam Upacara Memohon Hasil Panen masyarakat Ba Na, pemimpin ritual akan melaksanakan tiga tahapan doa, yaitu doa kepada para dewa, doa memohon musim panen yang melimpah, serta doa memohon kesehatan dan keselamatan.

Isi doa mencakup beberapa makna utama, yaitu menyampaikan kepada “Giàng” (dewa tertinggi dalam kepercayaan tradisional masyarakat Ba Na) dan para dewa mengenai waktu pelaksanaan upacara; mengundang dewa gunung, dewa sungai, dewa anak sungai, dewa hujan, serta para pelindung komunitas untuk hadir menyaksikan upacara; mengundang leluhur dan arwah orang-orang yang telah meninggal dan berjasa bagi desa untuk turut menghadiri ritual; melaporkan persembahan yang telah disiapkan keluarga dan masyarakat; serta mengungkapkan rasa syukur kepada para dewa, leluhur, tanah, sumber air, dan padi. Sesepuh desa Nguyen Ngoc Truong mengatakan bahwa Upacara Memohon Hasil Panen biasanya diselenggarakan oleh seluruh warga desa melalui gotong royong dan sumbangan bersama seluruh masyarakat: “Bagi warga desa, setiap kali Upacara Memohon Hasil Panen digelar, semua orang menyambutnya dengan penuh antusias. Mereka berdoa agar usaha pertanian dan peternakan berkembang, hasil panen yang melimpah dan seluruh warga desa hidup bahagia”.

Di Desa Xi Thoai, nilai-nilai budaya tradisional –mulai dari kuliner, tata cara hidup, busana adat, hingga berbagai ritual adat – terus dipraktikkan, dilestarikan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam lingkup keluarga, terdapat tradisi upacara pernikahan, pertunangan, hingga perayaan doa keselamatan dan kesehatan. Sementara dalam skala desa, warga menggelar Perayaan Padi Baru serta Festival Gendang Ganda - Gendang Tiga - Gendang Lima. Terutama sejak Xi Thoai diakui sebagai desa wisata budaya berbasis komunitas, ritual tradisional masyarakat Ba Na mulai direkonstruksi dalam bentuk pertunjukan edukatif untuk diperkenalkan kepada masyarakat dan wisatawan. Bapak Le Van Khuong, Desa Xi Thoai menuturkan:“Sebagai generasi penerus, saya selalu mengajak dan menyosialisasikan kepada masyarakat di desa agar bersama-sama melestarikan tradisi ini. Ini adalah tradisi luhur warga desa yang diselenggarakan setiap tahun agar tradisi khas masyarakat Ba Na di Desa Xi Thoai tidak punah”.

Wakil Kepala Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Provinsi Dak Lak, Nguyen Thuy Phuong Hieu, mengatakan bahwa untuk melaksanakan Resolusi No.80 Politbiro tentang pengembangan budaya, Dinas Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Dak Lak tengah melaksanakan berbagai program, proyek, dan rencana khusus yang bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan nilai-nilai budaya etnis lokal, yang disinergikan dengan pengembangan pariwisata:“Kami juga bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyusun rencana implementasi Program Target Nasional serta program target lainnya hingga tahun 2030. Dalam rencana tersebut, kami akan bekerja sama dengan instansi terkait untuk memilih target bagi setiap kelompok etnis. Setiap etnis di desa atau dusun tertentu akan mendapatkan perhatian melalui upaya pelestarian dan pengembangan yang menyeluruh, sehingga identitas budaya khas masing-masing dapat terus dikembangkan”.

Upacara Memohon Hasil Panen masyarakat Ba Na di Desa Xi Thoai, bersama berbagai ritual tradisional lainnya dari komunitas etnis minoritas di Provinsi Dak Lak, kini terus direkonstruksi, direvitalisasi dan didigitalisasi. Upaya ini menjadi landasan penting bagi pelestarian, pengenalan serta pewarisan nilai-nilai budaya, sekaligus berkontribusi dalam menjaga dan mengembangkan nilai-nilai budaya tradisional dari masyarakat berbagai etnis di Provinsi Lak Lak, baik untuk masa kini maupun masa depan.