(VOVWORLD) - Upacara Suk Yung diselenggarakan pada sekitar akhir bulan ke-10 dan ke-11 kalender Hijriah (31 Oktober – 12 Desember 2025), di masjid-masjid (Sang Magik) yang terdapat di desa-desa masyarakat etnis minoritas Cham penganut Islam Ba Ni. Di Desa Binh Hoa, Kecamatan Bac Binh, Provinsi Lam Dong, masyarakat etnis Cham penganut Islam Ba Ni i menyambut perayaan Suk Yung (Kinh hội) dengan penuh kegembiraan.
Setelah tiga kali tabuhan genderang bergema dari tempat suci (Sang Megik), para gadis etnis Cham mulai memasuki tempat suci dengan membawa nampan persembahan di atas kepala mereka. Jalan-jalan menuju tempat suci dipenuhi warna-warni busana tradisional para gadis Cham, berpadu dengan berbagai ragam hias pada nampan persembahan yang mereka junjung. Di dalam tempat suci, para rohaniawan telah hadir untuk melaksanakan ritual, sementara di luar, ratusan orang berkumpul untuk berdoa. Ibu Ba Thi Hieu, yang tinggal di Desa Binh Thang, Kecamatan Bac Binh, berbagi pendapat:
“Hari ini merupakan hari yang penuh kegembiraan bagi masyarakat Cham di daerah sini. Orang-orang dari berbagai daerah, tanpa membedakan agama, berkumpul untuk turut bergembira bersama. Ini adalah upacara tradisional masyarakat Cham kami. Orang Cham sangat menghormati perayaan keagamaan kami. Pada hari yang berbahagia ini, bukan hanya masyarakat Cham Ba Ni, melainkan juga masyarakat Cham Ba La Mon serta masyarakat Kinh datang untuk berbagi kebahagiaan. Hari ini adalah hari kegembiraan bagi agama kami”.
Persembahan diberikan kepada leluhur di tempat suci. (Foto: Doan Si/VOV) |
Dalam bahasa Cham, Suk Yung berarti “Hari Jumat yang berputar”. Oleh karena itu, upacara Suk Yung juga disebut “Kinh hội xoay vòng” (pertemuan keagamaan bergilir), dan diselenggarakan sekali dalam setahun pada hari Jumat, sekitar bulan ke-10 dan ke-11 kalender Hijriah. Pada hari-hari tersebut, setiap keluarga menyiapkan makanan dan minuman untuk menyambut kerabat serta warga dari daerah lain yang datang untuk berbagi kegembiraan bersama.
Lam Minh Doan, warga Desa Binh Hoa, Kecamatan Bac Binh, menyampaikan bahwa meskipun kehidupan masyarakat baru saja terdampak oleh hujan lebat dan banjir, warga dari desa-desa lain tetap datang untuk merayakan Suk Yung bersama masyarakat Desa Binh Hoa sambil menikmati secangkir teh dan kue.
“Di antara enam desa Cham yang menganut Islam Ba Ni di wilayah ini, Desa Binh Hoa menjadi desa pertama yang membuka upacara Suk Yung. Seluruh masyarakat Cham, termasuk yang tidak menganut Islam Ba Ni be’rkumpul di sini. Kami sebagai tuan rumah menyambut setiap tamu dengan penuh kehangatan. Meskipun kehidupan masih menghadapi banyak kesulitan, kami selalu membuka tangan selebar-lebarnya untuk menyambut para tamu yang datang dari jauh”.
Wanita etnis Cham dengan pakaian tradisional memasuki masjid untuk berdoa. (Foto: Doan Si/VOV) |
Berbeda dengan masyarakat Cham penganut Islam Ba Ni di Provinsi Lam Dong, masyarakat Cham penganut Islam Ba Ni di Provinsi Khanh Hoa menyelenggarakan upacara Suk Yung setiap 3 tahun sekali. Pada Tahun ini, upacara Suk Yung diselenggarakan secara bergiliran di tempat-tempat suci dari 7 desa Cham yang penganut Islam Ba Ni di Provinsi Khanh Hoa. Upacara dimulai di tempat suci di Desa Thanh Tin (Kecamatan Ninh Phuoc), kemudian dilanjutkan secara bergiliran ke desa-desa lain.
Sementara itu, upacara Suk Yung masyarakat Cham penganut Islam Ba Ni di Provinsi Lam Dong dimulai di masjid Desa Binh Hoa (Kecamatan Bac Binh) dan berakhir di tempat suci Chau Hanh (Kecamatan Hong Thai).
Para kemuka agama saling menyapa di dalam masjid. (Foto: Doan Si/VOV) |
Bapak Imum Tal, seorang pemuka Cham di Desa Binh Minh, Kecamatan Bac Binh, menyatakan bahwa upacara ini tidak hanya menjadi kesempatan bagi masyarakat Cham dari berbagai daerah untuk saling berkunjung dan meyampaikan ucapan selamat, tetapi juga menjadi kesempatan pengangkatan dua rohaniawan menjadi Khotip dan Imum. Kedua tokoh yang baru dilantik ini akan memimpin seluruh rangkaian upacara selama perayaan Ramuwan.
“Setelah upacara ini, perayaan Ramuwan baru dilaksanakan. Dalam upacara ini, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, setiap keluarga menyiapkan sesaji yang dibawa ke tempat suci. Dengan harapan agar leluhur mereka “cukup sandang dan cukup pangan” serta terus memberikan berkah berupa kesehatan dan keberhasilan dalam usaha”.
Keunikan upacara Suk Yung yang bersifat bergiliran memberikan kesempatan bagi para pemuda dan pemudi dari berbagai desa Cham untuk bertemu dan berinteraksi, sehingga turut mempererat tali persaudaraan antar-desa. Bersamaan dengan itu, upacara ini juga menjadi ruang aktivitas keagamaan dan kepercayaan yang mendorong kohesi komunitas serta memperkuat harmoni antara dua agama yang dianut oleh masyarakat Cham.