Kasus tersebut terjadi pada tgl 07 Maret ketika semua kru helikopter yang meliputi para staf PBB yang sedang berupaya mengevakuasi para perwira dan serdadu tersebut ke luar kawasan yang terjadi bentrokan besar antara Tentara Pemerintah dengan kelompok gerilyawan dengan nama “Divisi Putih” yang pernah dianggap oleh Pemerintah pimpinan Presiden Sudan Selatan, Salva Kirr sebagai Pasukan yang setia dengan Wakil Presiden Riek Machar.
Kepala Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB di Sudan Selatan (UNMISS), Nicholas Haysom mencela serangan tersebut sebagai “tindakan yang menjijikan” dan bisa melakukan kejahatan perang sesuai dengan hukum internasional. UNMISS mendesak pembukaan investigasi untuk menetapkan para tersangka yang berdiri di belakang kasus tersebut dan memaksa mereka harus menerima tanggung jawabnya.
