Upacara menggunting pita pembukaan pameran tersebut. Foto: VOV

Pameran ini memajang 21 lukisan karya Raja Ham Nghi (1871-1944) yang dikumpulkan dari 10 koleksi swasta. Dengan nama samaran Tu Xuan - "Putra Musim Semi," Raja Ham Nghi telah mengirimkan nostalgia akan kampung halaman dan hasrat untuk melampaui waktu dalam kesenian.

Para pengunjung di pameran tersebut. Foto: VOV

Menurut Bapak Franck Bolgiani, Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis, Direktur Institut Prancis di Hanoi, Wakil Direktur Institut Prancis di Vietnam, Raja Ham Nghi tidak hanya adalah seorang raja saja, melainkan juga adalah salah seorang artis Vietnam pertama yang dididik secara sistematis tentang lukisan Barat. Dengan cara mengombinasikan teknik akademis Prancis dengan kecintaan yang mendalam terhadap alam dan kebudayaan kampung halaman, dia telah menciptakan karya-karya yang unik, penuh dengan emosi dan nostalgia. Pameran tersebut berlangsung sampai dengan tgl 6 April.

Raja Ham Nghi (1871-1944), naik takhta pada tahun 1884, adalah raja kedelapan Dinasti Nguyen. Setelah ibu kota Hue diduduki oleh kaum agresor pada tahun 1885, Raja Ham Nghi meninggalkannya dan mengeluarkan Dekrit Can Vuong untuk menyerukan para pahlawan, cendekiawan, dan rakyat patriotik supaya bangkit merebut kembali kemerdekaan dan kebebasan bangsa. Pada tahun 1888, Raja Ham Nghi ditangkap oleh penjajah Prancis dan diasingkan ke Aljir (ibu kota Aljazair) pada tahun 1889.