Menjaga Kebudayaan Vietnam dalam Keluarga Vietnam-Indonesia

(VOVWORLD) - Pendidikan keluarga merupakan titik awal dari patriotisme. Dari kisah-kisah yang diceritakan nenek, makanan-makanan dari ibu, atau foto bersama dengan Paman Ho yang dipasang dengan khidmat di rumah, semuanya telah menumbuhkan perasaan cinta terhadap Vietnam dalam diri saudari Almy - generasi ke-4 dalam keluarga – bersama dengan para anggota lain dalam keluarga besar Vietnam-Indonesia di Jakarta.
 
Menjaga Kebudayaan Vietnam dalam Keluarga Vietnam-Indonesia - ảnh 1Keluarga besar Ibu Tran Ngoc Tu mengambil foto bersama dengan Dubes Vietnam untuk Indonesia, Ta Van Thong. Foto: VOV

Setiap 2 sampai 3 tahun, Ibu Tran Ngoc Tu dan anak cucunya mengunjungi Kedutaan Besar (Kedubes) Vietnam di Jakarta. Pada tahun ini, Ibu Tran Ngoc Tu sudah berusia 86 tahun. Dia adalah putri seorang wanita di Provinsi Binh Dinh yang menikah dengan seorang pria Indonesia yang dulu bekerja di Kota Da Lat dan datang menetap di Kota Bandung, Jawa Barat sejak tahun 1946. Berbincang dan bertemu dengan Duta Besar dan para staf di Kedubes merupakan cara bagi Ibu Tran Ngoc Tu untuk membantu anak cucunya memahami asal usul mereka dan bangsa Vietnam.

Bapak Rizal, menantu laki-lakinya, mengatakan, sebagai orang Indonesia, dia mendapat kehormatan ketika bisa menjadi anak menantu dalam keluarga. Dia berkata:

Ibu mertua saya selalu mengingatkan, kunjungan keluarga di Kedubes Vietnam di Jakarta merupakan peluang untuk bertemu dengan bapak Duta Besar dan masyarakat Vietnam sekaligus membantu anak-anaknya lebih memahami asal usul mereka, bahwa dalam nadi mereka masih mengalir darah Vietnam.

Menjaga Kebudayaan Vietnam dalam Keluarga Vietnam-Indonesia - ảnh 2Keluarga Ibu Tran Ngoc Tu mengunjungi Kedubes Vietnam di Indonesia. Foto: VOV

Kalau membalik-balik setiap foto yang sudah pudar warnanya dalam album yang berharga dari keluarga, meski ingatannya sudah terganggu dan menggunakan bahasa Vietnam yang dicampur dengan bahasa Indonesia dalam kisahnya, Ibu Tran Ngoc Tu tidak bisa menyembunyikan rasa bangga saat bercerita tentang foto yang diambil bersama dengan Paman Ho ketika Beliau mengunjungi Indonesia pada tahun 1959.

Saat itu, dia sedang belajar di SMP dan dapat pergi bersama dengan orang tua dan adik perempuannya untuk menemui Paman Ho. Dia menceritakan bahwa dirinya telah menerima ciuman di pipi dari Presiden Indonesia, Sukarno, dan adik perempuannya dengan hormat memberikan bunga kepada Paman Ho. Ibu Tran Ngoc Tu mengatakan:

Ibu saya menangis karena gembira sekali ketika bertemu dengan Paman Ho. Mendengar kata-kata ayah saya bahwa Paman Ho dicintai dan dihormati oleh seluruh Vietnam, saya sangat bangga dan bahagia karena dapat menyambut kedatangan Beliau di Indonesia. Paman Ho telah menyatakan kegembiraan ketika mendapat sambutan yang hangat dari masyarakat Indonesia dan dengan ramah bertanya tentang masing-masing anggota keluarga.

Hanya sederhana seperti itu, Ibu Tu telah menyebarkan kecintaan dan kebanggaannya terhadap Vietnam kepada para anggota keluarganya sehingga kenang-kenangan, ciri-ciri budaya, atau kisah tentang pertemuan dengan Paman Ho tidak hanya menjadi kebanggaan Ibu Tu saja, tetapi juga menjadi kebanggaan dari banyak generasi dalam keluarga, termasuk saudara Firman, cucu Ibu Tu:

Saya merasa sangat bangga karena keluarga saya telah bertemu dengan Paman Ho, apalagi nenek saya selalu bangga akan hal itu. Keharuan dan kebanggaan ditunjukkan dalam setiap kata-kata dan di matanya saat dia bercerita kepada kami.

Khususnya, bagi saudari Almy, generasi ke-4 dalam keluarga Ibu Tu, meski belum pernah mengunjungi Vietnam, tetapi dia selalu merasakan bahwa negeri ini sangat familier dalam kisah-kisah neneknya. Hal ini telah mendesak dia mencari tahu tentang negeri, kebudayaan dan rakyat Vietnam untuk menulis skripsi lulusan universitas.

Menjaga Kebudayaan Vietnam dalam Keluarga Vietnam-Indonesia - ảnh 3Saudari Almy dan skripsinya. Foto: VOV

Skripsi setebal 95 halaman dengan tema "Upaya diplomatik Indonesia dalam mendorong jumlah wisatawan dari Vietnam periode 2019-2023" dengan kesepenuhan hati dari gadis muda tersebut mendapat nilai yang sangat baik, memberikan kesan bagi para teman dan dosen di universitasnya. Saudari Almy mengatakan:

Barangkali kecintaan terhadap Vietnam selalu ada sehingga skripsi saya mencapai hasil yang sangat bagus. Memilih topik pariwisata, saya juga ingin memperkenalkan negeri Vietnam kepada teman-teman Indonesia. Mudah-mudahan akan ada semakin banyak orang Indonesia yang datang menjelajahi Vietnam dan sebaliknya. Saya merasa bangga akan tanah air tempat kakek nenek saya dilahirkan dan dibesarkan.

Belajar bahasa Vietnam, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang terkait dengan Vietnam, atau memberikan sumbangan-sumbangan kecil untuk menghubungkan dua negara merupakan hal-hal yang ingin dilaksanakan oleh gadis muda itu setelah lulus sekolah tinggi.

Menjaga Kebudayaan Vietnam dalam Keluarga Vietnam-Indonesia - ảnh 4Saudari Almy ingin segera datang ke Vietnam untuk mengunjungi kerabat. Foto: VOV

Karena tidak bisa secara permanen kembali ke Vietnam untuk mengunjungi kerabat, Ibu Tran Ngoc Tu berupaya membantu anak cucunya untuk mengenang kampung halaman dan melestarikan keindahan tradisional melalui mengajar mereka memasak beberapa hidangan Vietnam, menjahit “Ao dai” (pakaian tradisional dari orang Vietnam) pada acara-acara khusus, dan mengajarkan bahasa Vietnam kepada anak-cucunya... Hal ini justru telah menciptakan kohesi dan kecintaan terhadap asal usul Vietnam dalam keluarga besar Vietnam-Indonesia./.

Komentar

Yang lain