(VOVWORLD) -Konflik di Jalur Gaza antara Israel dan Hamas, yang pecah pada 7 Oktober 2023, terus mambawa dampak serius bagi masyarakat, infrastruktur, serta perubahan besar dalam hubungan internasional. Namun, skenario untuk mengakhiri konflik tersebut dampak semakin dekat.
Kelaparan yang mengerikan di Gaza (Foto: Reuters) |
Kenyataan yang Mengerikan
Setelah 2 tahun konflik, Jalur Gaza mengalami salah satu bencana kemanusiaan paling serius yang dihadapi dunia dalam beberapa dekade terakhir. Data yang dirilis oleh Badan Kesehatan Gaza menunjukkan bahwa hingga 6 Oktober 2025, lebih dari 67.000 orang telah meninggal dan hampir 170.000 orang terluka akibat konflik tersebut, sebagian besar (sekitar 80%) adalah warga sipil Palestina, dengan perempuan dan anak-anak sebagai mayoritas.
Di pihak Israel, jumlah korban juga mencapai ribuan, di mana jumlah korban dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 saja mencapai hampir 1.200 orang tewas, ratusan orang lainnya disandera, banyak di antaranya meninggal dalam penahanan. Selain jumlah korban yang besar, infrastruktur (listrik, air, sekolah, dll.) di Jalur Gaza juga hampir hancur total. Tidak berhenti di situ, pada 22 September, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bencana kelaparan di Gaza, wilayah pertama di Timur Tengah yang mengalami situasi ini, ketika 500.000 orang jatuh ke dalam kelaparan "mengerikan". Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan:
“Apa yang terjadi di Gaza hari ini sungguh mengerikan. Kita menyaksikan kehancuaran besar-besaran zona permukiman, penghancuran sistematis Kota Gaza, pembunuhan warga sipil dalam skala yang belum pernah saya ingat dalam konflik mana pun sejak saya menjadi Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.”
Konflik di Gaza juga berdampak besar pada lingkungan keamanan regional dan mengubah hubungan internasional secara mendalam. Memasuki tahun keduanya, kekerasan di Gaza telah memicu konflik serius lainnya di Timur Tengah, terutama antara Israel dan pasukan Hezbolah di Lebanon, dan khususnya konflik yang berlangsung 12 hari (13-25 Juni) antara Israel dan Iran kini menjadi konfrontasi paling serius antara kedua negara dalam beberapa dekade, yang menyebabkan keterlibatan militer langsung oleh Amerika Serikat. Di panggung global, ketidakpuasan terhadap kebijakan keras Israel serta tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza juga telah menyebabkan serangkaian sekutu Barat Israel mengakui Negara Palestina, yang mendorong Israel ke dalam isolasi. Pakar Sanam Vakil (perempuan), Direktur Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House (Inggris), menilai:
“Konsekuensi dari pendekatan militer Israel yang tanpa kompromi dan tidak pasti adalah dampak balik yang dialami Israel baik di tingkat regional maupun internasional, di mana Israel lebih terisolasi daripada sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir.”
Sekjen PBB Antonio Guterres (Foto: Reuters) |
Cahaya di Ujung Terowongan
Memasuki tahun ketiga konflik Gaza, tekanan internasional untuk segera mengakhiri konflik semakin meningkat di semua pihak. Di Amerika Serikat dan banyak negara Eropa yang bersekutu dengan Israel, kemarahan publik atas penderitaan kemanusiaan di Jalur Gaza semakin meningkat, menciptakan risiko keresahan sosial di negara-negara tersebut dan memaksa pemerintah untuk mengambil langkah tegas guna menemukan solusi bagi Gaza. Bahkan di dalam Israel, protes yang menuntut pemerintah mencapai kesepakatan untuk membebaskan sandera dengan Hamas dan mengakhiri konflik juga terjadi dalam skala yang semakin besar, sementara banyak suara dari politisi dan cendekiawan Israel mengatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza telah melewati "garis merah" dalam hal etika dan hukum internasional.
Dalam konteks tersebut, pada 29 September, Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana perdamaian 20 poin untuk Gaza, yang berfokus pada penarikan Israel dari Gaza, pelucutan senjata Hamas, dan penyerahan pengelolaan sementara Jalur Gaza kepada komite perdamaian internasional. Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa jika para pihak menyetujui kesepakatan tersebut, gencatan senjata akan segera diberlakukan di Gaza dan rekonstruksi menyeluruh jalur tersebut dapat dimulai.
Meskipun masih berhati-hati, reaksi pertama dari Israel dan Hamas juga membawa harapan akan "cahaya di ujung terowongan" untuk mengakhiri konflik Gaza. Untuk saat ini, Israel telah menerima garis penarikan awal di Jalur Gaza dan Hamas juga telah menyetujui sejumlah poin penting, termasuk masalah pemulangan sandera. Pada 6 Oktober, perwakilan Israel dan Hamas juga mengadakan negosiasi tidak langsung di ibu kota Mesir, Kairo, mengenai rencana perdamaian 20 poin, yang membuka prospek untuk mencapai kemajuan yang lebih besar dalam beberapa hari mendatang.