(VOVWORLD) -Dunia memasuki tahun 2026 di tengah ketidakpastian karena ketegangan geopolitik, konflik perdagangan, dan krisis iklim yang menciptakan banyak kekhawatiran. Namun, di saat yang sama, pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga membawa banyak harapan baru.
Pierre-Olivier Gourinchas, Direktur Riset di IMF (Foto: Reuters) |
|
Dalam proyeksi ekonomi yang dirilis pada akhir tahun 2025, sejumlah organisasi ekonomi dan keuangan memprediksi bahwa ekonomi global pada tahun 2026 akan tumbuh lebih lambat daripada tahun 2025 karena banyak ketidakpastian. Namun, tetap ada juga ruang bagi terobosan besar berkat akselerasi teknologi.
Ketegangan Geopolitik
Dalam laporan penilaian tahun 2026, yang diterbitkan pada pertengahan Desember, para pakar dari Chatham House, lembaga pemikir Kerajaan Inggris berpendapat bahwa keamanan global akan terus menghadapi tekanan signifikan karena konflik berkepanjangan di beberapa wilayah. Neil Melvin, Direktur Keamanan Internasional di Royal United Services Institute (RUSI), juga menyatakan bahwa ketidakstabilan geopolitik global, yang menjadi tren sejak fenomena Arab Spring (sekitar tahun 2010), akan tetap menjadi ciri dominan pada tahun 2026. Situasi ini dan bahkan dapat menjadi lebih berbahaya jika konflik lokal tidak dikendalikan dengan baik dan dapat menyeret kekuatan-kekuatan besar ke dalam konfrontasi.
“Apa yang kita saksikan hari ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan, yaitu, perkembangan yang mendorong kekuatan-kekuatan besar ke dalam konfrontasi yang lebih langsung. Ini adalah tren yang sangat mengkhawatirkan yang terjadi di berbagai wilayah di dunia dan dalam skala global.”
Ketidakstabilan geopolitik ini sering tercermin dalam proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari organisasi-organisasi internasional. Dalam laporan Tinjauan Ekonomi Dunia yang diterbitkan pada 2 Desember, Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memprakirakan pertumbuhan ekonomi global sekitar 2,9% pada tahun 2026, lebih rendah dibandingkan tahun ini yang mencapai sekitar 3,2%, meskipun diprediksi akan pulih menjadi sekitar 3,1% pada tahun 2027. Pada pertengahan Oktober, m Moneter Internasional (IMF) juga mengeluarkan proyeksi serupa yang bernada hati-hati dengan angka pertumbuhan 3,1% untuk tahun 2026. Namun, tidak semua prediksi bernada pesimistis. Ledakan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), diyakini dapat menjadi faktor penentu. Pierre-Olivier Gourinchas, Direktur Riset di IMF, berkomentar:
“Beberapa perkembangan kunci dapat dengan cepat mencerahkan prospek ekonomi. Pertama dan terpenting, meredanya ketidakpastian kebijakan melalui perjanjian perdagangan bilateral dan multilateral, yang dibarengi dengan penurunan tarif, dapat membantu meningkatkan pertumbuhan jangka pendek. Selanjutnya, AI berpotensi meningkatkan produktivitas. Banyak orang sudah menggunakan AI dan dapat membuktikan manfaatnya.”
Pertanyaan seputar AI
Teknologi AI merupakan harapan besar bagi pertumbuhan ekonomi di setiap negara serta untuk meningkatkan arus perdagangan global. Tetapi teknologi AI juga mulai dipertanyakan, tidak hanya terkait arah pengembangan dan regulasi AI secara global, tetapi juga tentang manfaat ekonomi riil yang akan dibawa AI. Istilah "Gelembung AI," sebuah istilah yang mulai lebih sering dibahas pada tahun 2025, dapat menjadi kekhawatiran yang menghantui bagi perusahaan dan negara pada tahun 2026. Menurut pakar Carl-Benedikt Frey, Profesor Muda m di bidang AI di Oxford Internet Institute (UK), penggunaan AI saat ini cenderung stagnan, atau bahkan menunjukkan penurunan.
"Sangat mungkin bahwa AI adalah teknologi hebat (seperti penerbangan) tetapi juga menjadi industri yang tidak menguntungkan karena persaingan yang ketat. Saat ini, kita melihat persaingan yang sangat kuat, terutama dari model sumber terbuka yang dikembangkan di Tiongkok, yang akan menyebabkan keuntungan menurun." Oleh karena itu, pertanyaannya adalah apakah tahun 2026 akan menjadi tahun di mana AI "meledak" secara finansial, dan apa yang akan terjadi pada teknologi tersebut jika gelembung investasinya pecah?
Emily Theokritoff, seorang peneliti l dampak iklim di Lembaga Grantham tentang Perubahan Iklim dan Lingkungan (Inggris) (Foto: Reuters) |
Krisis iklim menjadi faktor utama lainnya yang dapat membentuk wajah dunia pada tahun 2026. Sepanjang tahun 2025, kerugian ekonomi global akibat cuaca ekstrem diperkirakan mencapai sekitar 135 miliar USD, belum termasuk korban jiwa. Oleh karena itu, para ahli memperingatkan bahwa kegagalan mengintegrasikan risiko cuaca ke dalam perencanaan kebijakan dapat membuat negara-negara menjadi lebih reaktif dalam menanggapi kerusakan. Ana Yang, Direktur Pusat Lingkungan dan Masyarakat di Chatham House, percaya bahwa fokus kebijakan iklim global secara bertahap akan bergeser dari pengurangan emisi ke menuju adaptasi. Tren ini juga banyak dibahas pada Konferensi ke-30 Para Pihak Peserta Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim – COP30, yang diadakan di Belem (Brasil) pada lalu. Namun, Emily Theokritoff, seorang peneliti l dampak iklim di Lembaga Grantham tentang Perubahan Iklim dan Lingkungan (Inggris), berpendapat bahwa dalam jangka panjang, akar masalahnya tetaplah pengurangan emisi.
“Sangat penting untuk mengurangi emisi guna memastikan bahwa peristiwa (iklim) tidak memburuk, karena adaptasi memiliki batasan. Kita telah mengalami peristiwa yang menunjukkan bahwa betapapun siapnya kita, sangat sulit untuk menghindari dampak negatif.”
Secara keseluruhan, para pengamat percaya bahwa tren utama tahun 2025 akan terus mendominasi tahun 2026. Hasilnya akan sangat bergantung pada kemampuan setiap negara dalam menyesuaikan kebijakan dan inovasi pada sistem multilateral, yang meski menghadapi tantangan signifikan pada tahun 2025 tetap menunjukkan ketahanan yang relatif baik.