(VOVWORLD) - Chapi adalah salah satu instrumen musik tradisional yang unik dari masyarakat etnis minoritas Raglai di Provinsi Ninh Thuan (yang sekarang digabungkan dengan Provinsi Khanh Hoa). Instrumen musik ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan banyak generasi masyarakat Raglai, hadir dalam upacara-upacara ritual dan kegiatan masyarakat Raglai. Hingga kini, instrumen musik Chapi tetap dilestarikan oleh para seniman orang Raglai dengan harapan bahwa generasi penerus akan terus mewariskan tradisi ini, agar suara Chapi tetap bergema selama- selamanya.
Seniman Unggul Chamalea Au – pembuat alat musik Chapi dari masyarakat etnis Raglai. (Foto: Nguyen Luan /VNP) |
Chapi adalah instrumen musik sederhana yang dibuat oleh orang Raglai dari batang bambu. Pemilihan bambu untuk membuat Chapi haruslah sangat teliti, karena hanya bambu yang baguslah yang dapat menghasilkan suara merdu. Oleh karena itu, para perajin harus naik ke pegunungan tinggi untuk mencari batang bambu yang sempurna, tanpa cacat, dengan diameter sekitar 7–8 cm dan panjang ruas bambu sekitar 40 cm. Bambu untuk membuat Chapi tidak boleh terlalu tua, tetapi juga tidak boleh terlalu muda, usia sekitar satu tahun dianggap paling cocok, karena jika tidak, instrumen musik ini tidak akan mengeluarkan suara yang diinginkan.
Instrumen musik Chapi dibuat dari bambu hutan, yang melambangkan keterikatannya dengan alam. Oleh karena itu, setiap instrumen musik Chapi dibuat secara manual, mencerminkan rekam jejak pribadi dan jiwa sang pembuatnya. Seniman unggul Chamale Au, satu-satunya orang yang masih mengetahui cara membuat dan memainkan instrumen musik Chapi di Kecamatan Ma Noi, Kabupaten Ninh Son, mengatakan:
“Saya ke hutan untuk harus mencari pohon bambu yang tidak terlalu tebal, tipisnya sedangan saja. Bambu yang tumbuh di lembah tidak menghasilkan suara; harus cari bambu di pegunungan tinggi. Setelah ditebang, bambu dibawa pulang dan dijemur selama minimal 5 bulan agar benar-benar kering, lalu baru bisa dibuat menjadi instrumen musik. Kalau langsung dibuat setelah ditebang, ia tidak akan mengeluarkan suara. Dalam satu hari, saya hanya bisa membuat dua buah instrumen musik Chapi saja. Sulit sekali.”
Potongan bambu tua yang lurus dan indah diletakkan di atas tungku selama beberapa waktu hingga kering, kemudian digunakan untuk membuat instrumen musik Chapi. (Foto:Nguyen Luan/VNP) |
Instrumen musik Chapi memiliki tampilan yang sederhana, terdiri dari badan alat, senar, dan tombol penekan. Namun, untuk pembuatan alat musik ini membutuhkan seseorang yang memiliki banyak pengalaman dan keterampilan tinggi, khususnya harus memiliki kecintaan yang mendalam terhadap instrumen musik ini.
Tahap tersulit dalam pembuatan Chapi adalah memisahkan serat bambu untuk membuat senar instrumen musik. Ini merupakan proses yang menunjukkan tingkat keahlian dan keterampilan tangan dari pengrajin, karena memerlukan kesabaran dan memakan banyak waktu. Setiap senar harus tipis dan kecil agar dapat menghasilkan suara khas dari instrumen musik Chapi.
Bagi masyarakat Raglai, Chapi bukan hanya sekadar instrumen musik yang membantu untuk membagi kesenangan dan kesedihan dalam kehidupan saja, tetapi juga merupakan simbol jiwa dan identitas budaya yang unik dari masyarakat di sini. Suara instrumen musik Chapi sangat khas, hanya dengan mendengarkannya, kita sudah bisa merasakan gema alam pegunungan dan hutan. Bapak Mau Hong Thai, seorang warga Raglai di Desa Phuoc Hoa, Kabupaten Thuan Nam, menjelaskan bahwa Chapi tidak hanya digunakan untuk pertunjukan, tetapi juga dimainkan dalam berbagai upacara ritual dan acara-acara membaca dongeng tradisional. Ini merupakan cara bagaimana orang Raglai melestarikan kenangan komunitas mereka melalui suara.
“Keluarga yang paling miskin juga memiliki satu instrumen musik Chapi. Chapi dimainkan pada hari-hari bahagia, hari raya, Tahun Baru, dibawa ke ladang untuk mengusir binatang buas. Dahulu, saat masa perang, kami juga memainkan Chapi untuk menghibur para prajurit dan memberi dorongan semangat para pemuda untuk berangkat ke medan mengusir kaum musuh”.
Seniman Unggul Chamalea Au merasakan suara dari instrumen musik Chapi yang sedang dia buat. (Foto: Nguyen Luan/VNP) |
Guna mengkonservasikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya tradisional masyarakat Raglai, termasuk instrumen musik Chapi, beberapa tahun ini, Provinsi Ninh Thuan telah memperkuat pembukaan kursus-kursus pelatihan dan pengajaran instrumen musik tradisional agar generasi muda lebih memahami dan mencintai kebudayaan tradisional. Seniman unggul Mai Tham, di Kecamatan Phuoc Thang, Kabupaten Bac Ai, mengatakan:
“Jika masyarakat Raglai tidak mau belajar atau tidak mengajari generasi berikutnya, maka instrumen-instrumen musik tradisional seperti: ma la, Chapi,... lama-lama tidak akan ada orang lagi yang mengenalnya. Oleh karena itu, harus mengadakan kursus-kursus pengajaran untuk melestarikan identitas kebudayaan yang indah dan khas dari etnis Raglai”.
Instrumen musik Chapi bukan hanya sekadar alat musik saja, melainkan juga simbol budaya yang khas, berkaitan erat dalam kehidupan spiritual dan identitas masyarakat Raglai. Dalam konteks modernisasi dan integrasi, pendampingan komunitas dan seniman dalam melestarikan serta mengembangkan nilai-nilai instrumen musik Chapi akan turut memelihara jiwa generasi masyarakat Raglai masa kini dan masa depan agar suara instrumen musik Chapi terus bergema di tengah pegunungan dan hutan.