(VOVWORLD) - Pada Jumat malam (9 Mei), di Moskow, Ibukota Rusia, sehubungan dengan kehadirian resepsi khidmat dari Presiden Rusia Vladimir Putin pada Hari Kemenangan, Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Vietnam (Sekjen KS PKV) To Lam mengadakan pertemuan bilateral dengan para pemimpin Tiongkok, Kuba, dan Uzbekistan.
Sekjen To Lam dan istri (kiri) bertemu dengan Sekretaris Jenderal, Presiden Tiongkok Xi Jinping (foto: VOV) |
Pada pertemuan dengan Sekretaris Jenderal, Presiden Tiongkok Xi Jinping, Sekjen To Lam menegaskan bahwa Vietnam siap bekerjasama dengan Tiongkok untuk mendorong dan memperdalam hubungan Kemitraan Kerja Sama Strategis Komprehensif dan Komunitas Dengan Masa Depan Bersama Vietnam-Tiongkok, yang memiliki makna strategis menurut arah “6 lebih”.
Sekjen To Lam meminta kepada dua pihak supaya terus meningkatkan pertukaran tingkat tinggi secara permanen dan fleksibel; Mendorong kerja sama yang substantif di semua bidang, terutama konektivitas kereta api, aktif diperluas ke bidang-bidang baru, menjadikan kerja sama sains dan teknologi serta transformasi digital sebagai titik cerah baru dan motivasi pertumbuhan baru dalam hubungan Vietnam-Tiongkok.
Pada pihaknya, Sekjen, Presiden Tiongkok Xi Jinping menegaskan bahwa Beijing sangat mementingkan kemitraan kerja sama strategis komprehensif dan Komunitas Masa Depan Bersama Vietnam-Tiongkok, yang memiliki makna strategis, dan selalu menganggapnya sebagai prioritas dalam garis politik luar negeri tetangga Tiongkok. Sekjen Tiongkok menekankan bahwa, pada waktu mendatang, dua pihak perlu mempercepat konkretisasi dan implementasi secara efektif semua kesepakatan serta pengetahuan bersama tingkat tinggi, meningkatkan kualitas dan efektivitas kerja sama di segala bidang, serta membawa hubungan dua pihak dan dua negara semakin berkembang secara intensif, substantif, dan berkelanjutan.
Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba, Presiden Republik Kuba, Miguel Díaz-Canel (Kiri), dan Sekjen To Lam (Foto: VOV) |
Pada pertemuan dengan Sekretaris Pertama Partai Komunis Kuba, Presiden Republik Kuba, Miguel Díaz-Canel, Sekjen To Lam menegaskan bahwa Vietnam selalu menghargai, menjaga dan bertekad untuk lebih memperdalam hubungan solidaritas tradisional dan kerja sama komprehensif antara Vietnam dan Kuba, berdampingan dalam mendukung perjuangan revolusioner yang adil dari rakyat Kuba. Sekjen To Lam mengatakan bahwa kedua pihak perlu terus merealisasikan komitmen dan kesepakatan tingkat tinggi antara kedua negara. Sekjen To Lam juga menegaskan kembali pendirian yang konsisten dari Vietnam untuk tidak mendukung tindakan embargo sepihak terhadap Kuba.
Presiden Republik Kuba Miguel Díaz-Canel mengucapkan terima kasih kepada Vietnam yang selalu menjadi sahabat tepercaya, selalu mendukung dan membantu Kuba mengatasi kesulitan dalam pembangunan dan pengembangan negara, terutama selama periode pengepungan dan embargo. Presiden Miguel Díaz-Canel menegaskan akan membimbing berbagai kementerian dan instansi untuk berkoordinasi lebih erat dengan Vietnam dalam menggelarkan semua hasil yang dicapai dalam kunjungan kenegaraan Sekretaris Jenderal To Lam ke Kuba pada September 2024.
Bagi Presiden Uzbekistan, Shavkat Mirziyoyev, Sekjen To Lam menyatakan kesiapan Vietnam untuk menjadi jembatan guna meningkatkan kerja sama antara Uzbekistan dan negara-negara Asia Tenggara; meminta kepada Uzbekistan supaya mendukung Vietnam dalam memperkuat hubungan dengan negara-negara Asia Tengah dan mendorong konektivitas antar-kawasan.
Menyepakati semua permintan Sekjen To Lam, Presiden Uzbekistan meminta kepada dua supaya pihak segera menyelenggarakan dengan sukses Sidang ke-8 Komite Antarpemerintah tentang Ekonomi-Perdagangan dan Kerjasama Sains Teknologi pada tahun ini, mendorong kerja sama di bidang permigasan, pendidikan, dan transportasi, membuka lebih banyak penerbangan langsung, dan memperluas transportasi kargo multimoda.
Dalam rangka menghadiri Upacara peringatan HUT ke-80 Hari Kemenangan (9 Mei 1945 – 9 Mei 2025) di Federasi Rusia, Sekjen To Lam juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Presiden Uzbekistan, Brasil, Venezuela, dan Mongolia; Perdana Menteri Armenia dan Slovakia.