Di Dusun An Hoa, Kecamatan Lai Vung, Provinsi Dong Thap (dulu Desa Dinh An, Kabupaten Lap Vo, Provinsi Dong Thap) terdapat sebuah desa kerajinan pembuat talenan kayu yang sudah berusia 70 tahun lebih dan terkenal di seluruh kawasan. Jika umur pohon diukur dari guratan serat kayunya, maka reputasi desa kerajinan ini diukur dari dedikasi hati para pengrajinnya dan kualitas produknya yang memikat konsumen dari berbagai penjuru.
Para lansia di Desa Dinh An tidak ingat pasti kapan tepatnya desa kerajinan ini terbentuk. Mereka hanya mengenang bahwa kerajinan ini telah berkembang pesat sejak pertengahan abad lalu. Menurut penduduk setempat, dahulu masyarakat wilayah ini mengangkut dan memperdagangkan hasil pertanian menggunakan sampan hingga ke provinsi-provinsi yang jauh.
Saat pulang, mereka membeli jerami untuk atap rumah dan membeli kayu nyamplung untuk tiang rumah. Sisa-sisa kayu kemudian dibuat menjadi talenan untuk keperluan dapur. Lambat laun, talenan yang diproduksi semakin banyak dan penduduk mulai menjualnya atau menukarkannya dengan barang lain. Kabarpun tersebar luas hingga Dinh An dikenal sebagai sentra pembuat talenan berkualitas sehingga mengundang banyak orang datang untuk memesan. Dari sanalah desa kerajinan ini lahir dan aktivitas perdagangan menjadi semakin ramai. Nguyen Van Thi, pengrajin talenan generasi kedua dalam keluarganya, di Kecamatan Dinh An menuturkan:
"Dulu, ayah saya membeli kayu nyamplung untuk dibuat bajak, poros dan peralatan lainnya untuk dijual. Sisa-sisa kayu dibuat talenan untuk dijual di pasar. Ketika permintaan talenan mulai meningkat, barulah kami memperluas produksinya. Dahulu kami hanya berproduksi secukupnya untuk memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari karena belum ada mesin, namun saat ini jumlah produksinya jauh lebih banyak”.
Para ibu rumah tangga sangat menyukai talenan kayu Dinh An karena kualitasnya yang tahan lama berkat serat kayu yang padat dan keras. Selain warnanya yang indah, talenan ini tidak meninggalkan serpihan kayu pada daging saat digunakan. Harganya pun terjangkau karena bahan bakunya tersedia di daerah setempat. Dengan estetika yang tinggi, berbentuk agak bulat dan mengkilap, talenan ini memberikan rasa percaya diri bagi para ibu rumah tangga dalam menyiapkan makanan yang lezat dan higienis.
Talenan Dinh An hadir dalam beragam jenis dengan diameter sekitar 20-50 cm. Produk ini dibuat dari beragam jenis kayu seperti kayu nyamplung, mahoni, mangga, nangka dll. Secara khusus, talenan Dinh An dibuat secara manual, tanpa bahan kimia, hanya dikeringkan di bawah sinar matahari sehingga permukaannya halus dan tidak mudah berjamur.
Pembuatan talenan membutuhkan kerja keras dan tidak dikerjakan secara individu. Setiap pengrajin menangani proses yang berbeda. Pekerjaan itu dilaksanakan secara bertahap hingga produk selesai. Oleh karena itu, di Dinh An, beberapa keluarga biasanya membuka satu bengkel kecil untuk memproduksi talenan. Para laki-laki bertugas mengangkut kayu, menggergaji, memahat, dan memotongnya, sementara para perempuan mengamplas dan mengeringkan papan. Yang tersulit yaitu saat pengeringan di bawah sinar matahari. Karena cuaca tidak dapat diprediksi, sehingga pengeringan harus diawasi secara ketat. Pada musim hujan, dibutuhkan waktu hingga sepekan untuk mendapatkan cukup sinar matahari sebelum melanjutkan ke tahap penyerutan dan penghalusan.
Produk unggulan dari desa kerajinan Dinh An adalah talenan yang terbuat dari kayu nyamplung. Le My Trang, pengamplas talenan di Desa Dinh An menuturkan:
“Agar mendapatkan talenan dengan permukaan yang mengkilap, bahan bakunya harus berasal dari kayu nyamplung atau mahoni. Saat ini, kayu nyamplung dianggap sebagai bahan terbaik. Talenan yang dibuat dari kayu ini dapat bertahan sekitar 10 tahun, tidak berjamur dan tahan lama (awet)”.
Rata-rata dalam setahun, sebuah keluarga di Desa Dinh An mampu membuat 200 talenan. Tapi pada saat puncak seperti menjelang Hari Raya Tahun Baru Imlek, karena kebutuhan masyarakat akan talenan sangat tinggi, para pengrajin mungkin dapat membuat/memproduksi kira-kira 1.000 talenan. Setiap tahun, pada musim pasang surut (dari Agustus hingga November), Kecamatan Dinh An mulai menjadi ramai. Suara gergaji, pahat, mesin, serta tawa dan celoteh masyarakat yang sedang meratakan talenan seolah memberikan ritme kehidupan baru bagi daerah pedesaan tersebut.
