AS-Tiongkok Dorong Putaran Perundingan Perdagangan Baru

(VOVWORLD) - Pejabat ekonomi papan atas Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok memulai perundingan perdagangan baru di London (inggrí) pada tgl 9 Juni, yang bertujuan untuk menyelesaikan perselisihan yang mengancam eskalasi dalam hubungan perdagangan bilateral sejak mencapai kesepakatan sementara pada tgl 12 Mei di Jenewa, Swiss.
AS-Tiongkok Dorong Putaran Perundingan Perdagangan Baru - ảnh 1Delegasi perundingan dari AS dan Tiongkok (Foto: Reuters)

Itikad  baik dari kedua  pihak

Putaran perundingan baru antara dua perekonomian terbesar dunia di Lancaster House di London (ibukota Inggris) menandai pertama kalinya kedua negara menerapkan mekanisme konsultasi ekonomi dan perdagangan bilateral setelah pertemuan di Jenewa, Swiss pada bulan lalu. Delegasi Tiongkok dikepalai oleh Deputi Perdana Menteri He Lifeng, sementara delegasi AS dihadiri Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer.

Tujuan perundingan ini ialah mempertahankan dan mendorong pẻintah penghentian eskalasi perdagangan setelah kedua negara sepakat untuk mengurangi tarif selama 90 hari di Jenewa.

Putaran perundingan baru ini juga berlangsung hanya empat hari setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping melakukan pembicaraan telepon pertama pada tgl 5 Juni sejak Donald Trump kembali menjadi presiden AS pada awal tahun ini. Oleh karena itu, langkah-langkah ini menunjukkan bahwa baik AS maupun Tiongkok berupaya untuk secara bertahap mengembalikan hubungan ekonomi dan perdagangan bilateral ke orbit yang lebih stabil, setelah pergolakan yang disebabkan oleh kebijakan tarif baru AS. Ketika berbicara setelah hari pertama negosiasi di London, Presiden AS Donald Trump mengatakan:

Kami ingin membuka pasar Tiongkok (untuk barang-barang AS). Jika kami tidak menginginkannya, kami mungkin tidak akan melakukan apa. Itu akan baik untuk Tiongkok dan baik untuk seluruh dunia.”

Kalangan pakar juga mengatakan bahwa meskipun perselisihan perdagangan antara kedua belah pihak masih sangat besar dan beberapa topik hampir tak bisa dikompromikan, namun baik AS maupun Tiongkok menyadari bahwa situasi saat ini tidak menguntungkan pihak mana pun. Kent Kedl,  Pendỉi Perusahaan Kolsultasi Blue Ocean yang berkantor pusat di Shanghai, mengatakan:

“Yang dibutuhkan permufakatan perdagangan adalah dialog normal. Mereka perlu memiliki situasi di mana mereka duduk bersama dan menjelaskan apa yang diinginkan masing-masing pihak, lalu bergerak menuju ke sesuatu yang lebih besar. Saya pikir kedua belah pihak memiliki rencana dan strategi untuk mencapai kesepakatan, karena situasi tidak dapat terus berlanjut seperti ini.”

Kerugian ekonomi

AS-Tiongkok Dorong Putaran Perundingan Perdagangan Baru - ảnh 2Deputi Perdana Menteri He Lifeng dan Menteri Keuangan Scott Bessent (Foto: Reuters)

Kalangan Investor internasional memantau dengan saksama perkembangan putaran perundingan di London karena angka-angka yang baru dirilis menunjukkan bahwa ketegangan perdagangan antara dua perekonomian terbesar di dunia mulai berdampak negatif tidak hanya pada AS-Tiongkok saja, tetapi juga terhadap ekonomi global.

Pada tanggal 9 Juni, Bea Cukai Tiongkok merilis data yang menunjukkan bahwa pada bulan Mei, ekspor Tiongkok ke AS turun sebesar 34,5%, penurunan paling tajam sejak Februari 2020, ketika wabah Covid-19 mengganggu perdagangan global. Impor Tiongkok dari AS juga turun sebesar 18,1%.

Sementara itu, di pihak AS, meskipun persentase inflasi masih terkendali dengan baik dan pasar tenaga kerja relatif stabil, tapi dampak ekonomi dari konflik tarif dengan Tiongkok dan banyak negara ekonomi lainnya juga mulai muncul.. Banyak perusahaan AS, terutama di sektor ritel, telah menderita kerugian puluhan miliar dolar karena tidak bisa mengekspor barang ke Tiongkok, sementara harus menaikkan harga barang impor dalam negeri untuk mengimbangi biaya tarif. Eric Zheng, Presiden Kamar Dagang Amerika di Shanghai (Amcham Shanghai), mengatakan:

Taraf tarif saat ini terlalu tinggi bagi perusahaan kami karena perusahaan kami terus mengimpor bahan baku dari AS dan juga mengekspor beberapa produk ke AS. Tarif saat ini mencegah perusahaan kami untuk terus beroperasi. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah AS dan Tiongkok dapat menyelesaikan perselisihan untuk mencapai kesepakatan guna menurunkan tarif.”

Selain badan usaha AS-Tiongkok, kalangan pebisnis di banyak negara di seluruh dunia juga menunggu perbaikan dalam hubungan perdagangan AS-Tiongkok. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah asosiasi dari berbagai negara, seperti Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA), sebuah organisasi yang mewakili produsen mobil dan pemasok suku cadang mobil Jerman, Aliansi Inovasi Otomotif AS, dan Bajaj Auto (India), telah memperingatkan bahwa pengetatan ekspor tanah jarang oleh Tiongkok dapat mengganggu atau bahkan melumpuhkan produksi mobil di banyak bagian dunia, tidak hanya di AS. Selain itu, sektor elektronik, penerbangan, industri pertahanan, dll. juga akan sangat terpengaruh oleh pembatasan ekspor oleh  AS-Tiongkok.

Komentar

Yang lain