Konferensi Samudra PBB yang ke-3: Harapan untuk Mencapai Titik Balik dalam Perlindungan Laut

(VOVWORLD) - Konferensi Samudra Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ke-tiga (UNOC3) akan diselenggarakan dari tanggal 9 sampai 13 Juni, di Kota Nice, Prancis Selatan. Konferensi ini bertujuan untuk mencapai kesepakatan global dan memobilisasi sumber bantuan bagi pekerjaan konservasi laut, pada latar belakang banyak negara masih mengalami perselisihan mengenai penambangan laut dalam, limbah plastik dan penangkapan ikan yang berlebihan.  

Menurut rencana, negara tuan rumah Prancis akan menyambut kedatangan sekitar 70 negara dan pemerintah di Nice. Konferensi ini juga menghimpun para pemimpin badan usaha, sponsor internasional dan para aktivis lingkungan laut. Tujuannya ialah mencapai konsensus dalam memobilisasi sumber-sumber keuangan untuk mengkonservasikan dan menggunakan secara berkelanjutan samudra, laut dan sumber daya laut; membantu pelaksanaan Target Pembangunan yang berkelanjutan 14 (SDG 14) mengenai lingkungan laut.

Peranan penting dari kerja sama internasional dalam konservasi samudra

Diperkirakan nilai ekonomi samudra akan melebihi 3.000 miliar USD pada tahun 2030, menjadikan samudra sebagai perekonomian terbesar ke-5 di dunia. Oleh karena itu, melindungi samudra bukan hanya berarti melindungi ekosistem saja, tetapi juga melindungi mata pencaharian masyarakat. Menyadari hal ini, selama ini, pekerjaan konservasi telah menjadi perhatian khusus dari komunitas internasional.

Konferensi Samudra PBB yang ke-3: Harapan untuk Mencapai Titik Balik dalam Perlindungan Laut - ảnh 1Konferensi Samudra di Lisbon, Portugal, pada tanggal 1 Juli 2022 (Foto: Reuters/Rodrigo Antunes)

Pada tahun 2022, Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal telah disahkan, di antaranya menetapkan target sampai tahun 2030 memulihkan dan melestarikan setidaknya 30% luas darat dan laut di planet ini. Pada tahun 2023, Perjanjian tentang laut lepas secara resmi lahir, menandai titik balik yang penting dalam melindungi ekosistem laut. Ibu Minna Epps, Kepala Kelompok Samudra dari Uni Konservasi Alam Internasional (IUCN), mengatakan:

“Perjanjian tentang laut lepas mencakup sekitar 64% wilayah samudra. Setiap negara memiliki zona ekonomi eksklusif sejauh sekitar 200 mil laut, oleh karena itu semua di luar wilayah tersebut dianggap sebagai laut lepas. Saat ini, samudra sedang menghadpai ancaman besar dari polusi plastik dan penangkapan ikan yang berlebihan, serta dampak perubahan iklim, peningkatan keasaman, yang semuanya sedang menjadi faktor yang memengaruhi ekosistem dan mengancam kepentingan manusia. Oleh karena itu, kita harus mendorong aksi, menjunjung tinggi peranan penting dari samudra dalam upaya mengurangi dan beradaptasi dengan perubahan iklim”.

Namun, dari komitmen hingga aksi adalah perjalanan yang panjang dan penuh tantangan. Penelitian terbaru memperingatkan bahwa target global untuk menjadikan 30% wilayah laut sebagai kawasan konservasi pada tahun 2030, yang seperti dicantumkan dalam Kerangka Keanekaragaman Hayati Kunming-Montreal tahu 2022 , kini semakin menjadi tipis, ketika wilayah laut yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi baru mencapai lebih dari 2,7%.

Sementara itu, Perjanjian tentang laut lepas hingga saat ini belum mencapai jumlah 60 negara untuk meratifikasinya agar bisa resmi berlaku. Prestasi-prestasi kerja sama internasional yang terbatas ini masih belum cukup.

Banyak harapan pada UNOC 3

Oleh karena itu, Konferensi UNOC3 yang berlangsung di Nice, Prancis, diharapkan akan menciptakan titik balik dalam mendorong aksi dan memobilisasi semua pihak terkait untuk mengkonservasikan dan menggunakan samudra secara berkelanjutan.

Menjelang konferensi tersebut, 6 negara anggota Uni Eropa menyatakan untuk meratifikasi Perjanjian tentang laut lepas, meningkatkan jumlah negara yang mengesahkan perjanjian ini menjadi 28. Negara tuan rumah Prancis menargetkan mencapai 60 negara untuk meratifikasi Perjanjian ini sesuai dengan ketentuan agar dokumen hukum ini resmi berlaku pada konferensi tersebut. Utusan khusus urusan samudra dari Prancis, Olivier d’Arvor mengatakan:

          “Hal yang kami nantikan ialah konferensi ini mencapai hasil-hasil tertentu. Saya pernah menghadiri beberapa konferensi samudra biru, banyak komitmen telah dikeluarkan dengan miliaran USD yang dianggap akan bisa menyelamatkan samudra, tetapi ternyata samudra masih menghadapi bahaya. Oleh karena itu, kita perlu beraksi untuk mencapai satu kesepakatan tentang samudra”.

Sementara itu, Forum Ekonomi Hijau dan Keuangan yang diselenggarakan Monako berkomitmen untuk menyerap investasi para pemimpin negara-negara dan Pemerintah, badan usaha, keuangan dan masyrakat sipil pada perekonomian hijau dan transportasi laut yang berkelanjutan, bersamaan itu merekomendasikan peralatan-peralatan keuangan hijau dan kreatif.

Kosta Rika, negara pemimpin konferensi bersama dengan Prancis, berharap agar konferensi ini bisa memobilisasi 100 miliar USD dari komitmen publik dan swasta, disertai dengan batas waktu, anggaran keuangan dan mekanisme pengawasan yang jelas. Konferensi UNOC3, dengan Pernyataan Nice yang direncanakan akan disahkan, diharapkan akan membuka mekanisme mobilisasi sumber pendanaan untuk pekerjaan konservasi laut, mendorong aksi global yang konkret untuk melindungi samudra secara berkelanjutan.

Komentar

Yang lain