(VOVWORLD) - Tentara Amerika Serikat (AS) dan Israel, pada 28 Februari, melancarkan serangan militer terhadap Iran sehingga memicu tindakan balasan yang keras dari Iran di seluruh Timur Tengah. Perkembangan-perkembangan serius ini terus menempatkan perdamaian kawasan dan dunia pada tantangan yang kritis.
Pertaruhan untuk Semua Pihak
Segera dalam gelombang serangan pertama, tentara AS dan Israel menargetkan para pemimpin senior dalam pemerintah Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei serta beberapa Jenderal Iran dilaporkan tewas pada hari pertama konflik. Sebagai balasan, Tentara Iran meluncurkan ratusan rudal dan pesawat nir-awak (UAV) terhadap beberapa sasaran di wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di beberapa negara di kawasan Timur Tengah termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Arab Saudi, Kuwait dll. Perkembangan-perkembangan ini menyebabkan konflik yang kedua antara AS dan Israel terharap Iran meningkat pesat kerseriusannya dibandingkan dengan konflik tahun lalu.
Direktur Inisiatif Keamanan Timur Tengah di Dewan Atlantik, Jonathan Panikoff menilai bahwa perbedaan terbesar antara konflik selama 12 hari pada tahun lalu dengan konflik saat ini adalah perubahan strategi yang dilaksanakan Pemerintah AS dan Presiden Donald Trump. Dalam konflik selama 12 hari tahun lalu, AS tidak memimpin langsung, Israel lah yang memimpin dengan intervensi AS setelah melalui banyak pertimbangan. Targetnya yaitu menghancurkan infrastruktur dan kapasitas nuklir Iran, hal yang tidak berhasil dilaksanakan oleh Israel saat itu. Namun, dalam konflik saat ini, Donald Trump telah menyatakan niatnya untuk mengubah rezim Iran. Menurut Jonathan Panikoff, ini menjadi perhitungan yang sangat berresiko karena belum dipastikan bagaimana AS bisa mencapai target tersebut. Bbersamaan itu, semakin lama konflik terjadi, semakin banyak faktor yang tidak menguntungkan akan muncul.
“Faktanya pada beberapa hari-hari awal semua orang mungkin akan bersemangat tetapi semakin lama konflik berlangsung kerugian akan semakin besar, dan Donald Trump akan semakin sulit untuk mempertahankan dukungan bahkan dari para legislator Partai Republik di dalam Kongres, masyarakat di seluruh AS serta beberapa orang independen”.
Konsekuensi yang Meluas
Konflik serius antara AS-Israel terhadap Iran telah menjatuhkan perdamaian di Timur Tengah ke dalam situasi kritis yang baru. Hal ini terjadi di tengah konteks berbagai konflik selama tiga tahun antara Israel dengan Gerakan Hamas di Jalur Gaza, dengan pasukan Hezbollah di Lebanon dan konfrontasi militer langsung untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade antara Israel dan Iran pada Juni lalu, telah mengubah secara mendalam lingkungan keamanan regional. Menurut kalangan pengamat, faktor yang paling mengkhawatirkan saat ini adalah konflik antara AS, Israel dengan Iran sangat berpengaruh langsung terhadap beberapa negara di kawasan, saat Iran melancarkan serangan balasan terhadap berbagai pangkalan militer AS di negara-negara tersebut.
Menurut Ali Vaez, Direktur Proyek Penelitian Iran di Grup Krisis Internasional (ICG), banyak pemimpin dan warga di kawasan sangat terkejut dengan balasan gigih Iran terhadap beberapa aset dan kepentingan AS di kawasan. Tindakan balasan ini mungkin diperluas ke target-target energi strategis, memicu kejutan energi global. Tetapi, menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, skenario yang lebih buruk adalah konflik meluas dan semua upaya diplomatik gagal.
“Tindakan militer dengan cepat diperluas di seluruh kawasan, menimbulkan situasi yang sangat rapuh dan tidak bisa diprediksi, meningkatkan risiko salah perhitungan. Menyusul beberapa putaran negosiasi politik, dan persiapan teknis di Wina telah selesai, jadi saya menyesal bahwa kesempatan diplomatik ini telah terbuang.
Pertama-tama, konflik AS-Israel terhadap Iran telah menciptakan dampak negatif terhadap ekonomi dengan menyebabkan efek domino di pasar keuangan global, mulai dari emas, uang kripto hingga saham Asia-Pasifik dan kontrak berjangkapanjang di AS. Pengumuman Presiden AS, Donald Trump pada 1 Maret bahwa semua kegiatan militer di Iran akan dilanjutkan telah meningkatkan kekhawatiran akan perpanjanganan konflik. Menurut kalangan pengamat, kekhawatiran tentang blokade Selat Hormuz, s jalur maritim strategis dengan ruas perdagangan energi global semakin terlihat secara jelas. Semua faktor ini tidak hanya mengikis perdamaian di Timur Tengah tetapi juga menimbulkan banyak tantangan terhadap stabilitas ekonomi dan geo-politik di dunia.