Setahun Konflik Rusia-Ukraina: Konfrontasi Belum Berakhir

(VOVWORLD) - Pada pukul 5.55 pagi, tanggal 24 Februari 2022, hanya dua hari setelah Rusia mengakui dua negara yang menamakan diri sebagai Lugansk dan Donetsk, Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan peluncuran “operasi militer khusus” di Ukraina. 
Setahun Konflik Rusia-Ukraina: Konfrontasi Belum Berakhir - ảnh 1Presiden Rusia, Vladimir Putin (kanan) dan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky (Foto: Reuters)

365 hari berlalu sejak suara meriam pertama bergema di wilayah Donbas, Ukraina Timur, konflik ini masih berlangsung, tidak hanya menimbulkan kerugian besar dalam hal manusia dan harta benda bagi kedua pihak, tetapi mengguncangkan ketertiban geopolitik dan ekonomi global. Hal yang patut dikatakan bahwa tanda jalan ke luar bagi konflik ini masih belum terlihat.

Dalam pidato langsung pada 24 Februari 2022 sebelum membuka “operasi militer khusus” di Ukraina Timur, untuk menanggapi permintaan bantuan penjaminan keamanan dari pemimpin dua negara yang menamakan diri sebagai Republik Donetsk (DPR) dan Lugansk (LPR), Presiden Vladimir Putin menekankan bahwa operasi militer Rusia merupakan tindakan bela diri, Rusia tidak menduduki Ukraina, tetapi akan melakukan “defasisme”, “demiliterisasi” terhadap negara Eropa Timur ini. Sejak itu, konflik Rusia-Ukraina sebagai konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II, resmi dimulai dan berlangsung hingga saat ini dengan banyak perkembangan yang bereskalasi.

Kerugian – Kerugian Berat

Krisis Rusia-Ukraina sekarang berasal dari banyak alasan yang “membara” sejak lama. Dari peristiwa Maidan (gejolak politik pada Februari 2014), penggabungan Semenanjung Krimia dengan Moskow mengakibatkan pendirian dua negara yang menamakan diri Lugansk dan Donetsk, hingga permintaan Ukraina untuk bergabung pada koalisi militer Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO), dan sebagainya, semuanya telah meningkatkan ketegangan antara kedua pihak ke tingkat “puncak”.

Selama setahun ini, dari skala permulaannya adalah wilayah Dobass, Rusia telah memperluas sasaran dari operasi militer khusus di Ukraina ke bagian selatan dan wilayah-wilayah lain, termasuk Ibu Kota Kiev. Konflik ini telah menimbulkan akibat berat, tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi kedua negara Rusia dan Ukraina, tetapi juga memengaruhi ekonomi global. Dunia menghadapi krisis pangan yang serisu ketika sumber pasokan dari kedua lumbung gandum dan biji-bijian besar turun; terputusnya sumber pasokan bahan bakar terkait sanksi-sanksi dan saling balas antara Moskow dan Barat sehingga Eropa harus mengalami satu musim dingin yang sangat dingin, meningkatkan harga energi global, secara terus menerus meningkatkan inflasi di banyak negara ke tingkat rekor, dan menimbulkan bahaya instabilitas sosial. Konflik juga mengakibatkan krisis kemanusiaan besar yang belum pernah ada sebelumnya di Eropa sejak Perang Dunia II. Data yang diumumkan Kantor Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (OHCHR) pada Januari 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 18.000 orang tewas, 7,9 juta orang harus mengungsi ke negara-negara Eropa dan 21,8 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

Perkembangan-Perkembangan yang Berbahaya

Sementara konflik belum bisa menemukan jalan ke luar, pada dua bulan awal tahun 2023, perkembangan-perkembangan baru untuk mendapatkan satu solusi damai bagi konflik yang sudah berlangsung selama setahun ini semakin jauh.

Negara-negara Barat meningkatkan bantuan militer untuk Ukraina. Pada rapat-rapat Uni Eropa dan NATO, banyak komitmen yang telah dikeluarkan terkait penguatan pemasokan amunisi, pengerahan tank untuk membantu Kiev di lapangan. Uni Eropa juga telah membahas paket sanksi ke-10 terhadap Moskow terkait konflik lama di Ukraina. Sementara itu, pihak Rusia menyatakan menganggap senjata Barat di Ukraina sebagai sasaran serangan. Presiden Ukraina Zelensky dalam satu pernyataan baru-baru ini menegaskan bahwa tujuan Kiev adalah tidak hanya mencegah serangan-serangan baru Rusia, tetapi juga merebut kembali seluruh wilayah yang dikontrol Moskow, termasuk Semenanjung Krimia. Untuk melakukan hal itu, Ukraina mengimbau sekutunya dari Barat untuk memberikan lebih banyak dan lebih cepat bantuan yang dapat membantu Kiev di medan perang.

Pintu Perdamaian Masih Ditutup

“Mengutuk”, “mengimbau”, “mendesak” adalah kata-kata yang sering timbul selama dua belas bulan ini ketika para pihak menginginkan agar Rusia dan Ukraina menghentikan perang, tetapi masih tidak bisa membuat para pihak melakukan gencatan senjata di medan perang. Apalagi serentetan sanksi yang diberikan Barat terhadap Rusia juga tidak menemukan jalan ke luar bagi perang ini. Selama setahun ini, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan para sekutunya telah memberikan sekitar 11.000 sanksi terhadap Rusia, pada pokoknya berdampak terhadap lima bidang: keuangan, perdagangan, teknologi, energi, dan kalangan elite Rusia, menjadikan Rusia salah satu negara pertama dalam sejarah yang meneirma sanksi terbanyak.

Setahun Konflik Rusia-Ukraina: Konfrontasi Belum Berakhir - ảnh 2Tentara Ukraina mengendalikan tank di dekat Kota Bakhmut, Provinsi Donetsk pada 21 Februari 2023. (Foto: Reuters)

Menghadapi perkembangan-perkembangan saat ini, para analis pada pokoknya menilai bahwa satu kesepakatan diplomatik untuk menghentikan konflik antara Rusia dan Ukraina nampaknya sangat sulit dicapai dalam waktu dekat. Baik Rusia maupun Ukraina memiliki keyakinan yang berbeda dalam sejumlah masalah. Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, meskipun juga menunjukkan tanda-tanda untuk berusaha mendorong dialog, tetapi bantuan senjata yang dilakukan secara terus menerus kepada Ukraina dan usaha memperketat sanksi terhadap Rusia semakin membawa konflik ke dalam jalan buntu.

Pada sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 23 Februari lalu, di New York, Amerika Serikat, Presiden Majelis Umum Csaba Korosi memperingatkan bahwa bahaya eskalasi konflik masih ada dan prospek perdamaian semakain menurun. Mendorong dialog untuk membuka pintu perdamaian dan menghentikan konflik adalah prioritas nomor satu sekarang ini.

Komentar

Yang lain