(VOVWORLD) - Dalam pesan Uni Eropa yang dibacakan di depan Parlemen Eropa (EP), pada Rabu (10 September, Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen menekankan bahwa Uni Eropa sedang harus berjuang untuk masa depannya, di tengah lingkungan geopolitik dan ekonomi global yang semakin penuh tantangan.
Perjuangan untuk Masa Depan
Dalam pesannya tahun ini, Presiden Komisi Eropa, Ibu Ursula von der Leyen menetapkan serangkaian arah kebijakan baru blok ini, terutama masalah-masalah hubungan luar negeri. Menurut Kepala Komisi Eropa, Uni Eropa sedang harus berjuang untuk masa depannya yang independen dan damai di tengah dunia yang semakin bergejolak, di antaranya satu ketertiban berdasarkan pada kekuatan yang sedang dibentuk dan sejumlah negara adi kuasa di dunia mengambil sikap yang tidak jelas atau secara terbuka bersikap bermusuhan terhadap Eropa.
Ketika menyinggung masalah tarif dari Amerika Serikat (AS) dan kesepakatan perdagangan yang ditandatangani dengan AS pada bulan lalu, menurutnya Uni Eropa menyetujui tarif ekspor sebesar 15% ke AS, Ibu Ursula von der Leyen menegaskan keputusan Komisi Eropa ketika beranggapan bahwa taraf tarif ini tidak begitu ringan, tetapi kesepakatan dengan AS memberikan stabilitas bagi hubungan Uni Eropa-AS di tengah instabilitas global. Presiden Komisi Eropa juga memperingatkan potensi kekacauan ekonomi dan politik yang harus dihadapi oleh blok ini jika terjadi satu perang perdagangan global dengan AS. Ibu Ursula von der Leyen beranggapan bahwa langkah selanjutnya bagi Uni Eropa ialah mendiversifikasi mitra untuk melindungi kepentingannya dengan lebih baik.
Para anggota yang menghadiri sidang Parlemen Eropa pada 10 September di Strasbourg, Prancis. (Foto: REUTERS/Yves Herman). |
Pandangan “diversifikasi” ini dari Ibu Ursula von der Leyen mendapat banyak dukungan pemimpin Eropa. Sebelumnya, Kanselir Jerman, Friedrich Merz juga beranggapan bahwa Eropa perlu menilai kembali kepentingan-kepentingannya secara independen dengan sekutu terpenting dari blok ini, yaitu: AS.
“Kita jangan dan tidak bisa menantikan AS untuk terus memikul keamanan Eropa, tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa hubungan antara Eropa dan AS telah berubah. AS sedang menilai kembali kepentingannya dan telah melakukan hal itu sudah sejak lama. Oleh karena itu, Eropa juga harus menyesuaikan kepentingannya tanpa adanya nostalgia atau kesalahan”
Namun, tidak semua kekuatan politik di Eropa mendukung strategi-strategi baru dari Komisi Eropa dan Ibu Ursula von der Leyen. Segera setelah Pesan Uni Eropa yang dikeluarkan Ibu Ursula von der Leyen, kelompok Partai “Patriotisme Eropa” (PfE), kekuatan politik terbesar ketiga di Parlemen Eropa, telah mengajukan mosi tidak percaya terhadap Komisi Eropa, dengan alasan bahwa Komisi telah melemahkan otonomi strategis Uni Eropa melalui upaya mengejar kesepakatan-kesepakatan dagang yang kontroversial.
Prospek Ekonomi Belum Jelas
Selain kekhawatiran tentang posisi masa depan, gambaran ekonomi saat ini di negara-negara Uni Eropa juga belum benar-benar jelas. Pada tanggal 11 September, setelah pertemuan Dewan Gubernur, Bank Sentral Eropa (ECB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga dasar pada level 2%. Ini merupakan kali kedua berturut-turut ECB tidak mengubah suku bunga setelah memangkas setengahnya pada bulan Juni lalu. Menurut pengumuman, ECB mempertahankan tiga tingkat suku bunga utama, termasuk suku bunga simpanan yang dianggap sebagai alat kebijakan utama ECB, semuanya tetap di level 2%.
Ursula von der Leyen, Presiden Komisi Eropa, menyampaikan pidato di depan Parlemen Eropa pada 10 September 2025. (Foto: REUTERS/Yves Herman) |
Pemberitahuan tersebut menunjukkan bahwa tingkat inflasi saat ini masih sesuai dengan target jangka menengah dan prospek harga secara umum tidak berubah. Konkretnya, ECB memperkirakan inflasi Zona Euro (Eurozone) rata-rata sebesar 2,1% pada tahun 2025 dan 1,7% pada tahun 2026. Namun, Presiden ECB, Christine Lagarde, menyatakan bahwa meskipun indeks-indeks inflasi dan perkiraan pertumbuhan ekonomi di Eurozone stabil, tetapi masih ada faktor-faktor yang dapat memberikan dampak negatif sehingga dibutuhkan kewaspadaan.
“Tarif yang tinggi, mata uang Euro yang lebih kuat, dan meningkatnya persaingan global diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan di Eurozone pada bulan-bulan terakhir tahun ini. Namun, dampak dari angin yang melawan pertumbuhan ini kemungkinan akan memudar pada tahun berikutnya”.
Menurut para pengamat, data-data terbaru memperkuat perkiraan ECB bahwa pertumbuhan Eurozone tahun ini dapat mencapai 1,2%, naik dibandingkan dengan angka 0,9% yang diperkirakan sebelumnya. Namun, setidaknya ada empat faktor yang dapat memberikan dampak tak terduga terhadap prospek ini, yaitu: dampak jangka panjang dari tarif AS; pengeluaran publik yang lebih tinggi dari Jerman, ekonomi nomor satu di Eropa; prospek pemotongan suku bunga oleh “Federal Reserve AS” (The Fed); dan ketidakstabilan politik di Prancis, ekonomi nomor dua di Uni Eropa. Faktor-faktor ini semuanya dapat berdampak secara signifikan terhadap pertumbuhan dan inflasi blok tersebut. Menurut kalangan analis, hal ini berarti bahwa ECB akan terus mempertahankan pendekatan hati-hati terhadap kebijakan suku bunga dan dengan banyak kemungkinan bahwa suku bunga akan dipertahankan di sekitar level saat ini untuk jangka waktu yang lama.