(VOVWORLD) - Pada Rabu (28 Januari), Presiden Dewan Eropa, António Costa memulai kunjungan resmi ke Vietnam atas undangan Presiden Luong Cuong. Kunjungan ini memiliki makna penting, menunjukkan penghargaan mendalam dan tekad kedua belah pihak untuk membina hubungan Vietnam-Uni Eropa ke level yang baru, sekaligus menjadi model kerja sama yang sukses antara Asia dan Eropa.
Ini untuk kedua kalinya seorang pejabat tertinggi Uni Eropa melakukan kunjungan resmi ke Vietnam, setelah kunjungan Presiden Herman Van Rompuy pada tahun 2012. Kunjungan kali ini merupakan tonggak diplomatik yang istimewa, berlangsung di saat Vietnam telah berhasil menyelenggarakan Kongres Nasional XIV Partai Komunis Vietnam.
Foto ilustrasi: VGP |
Prestasi kerja sama yang mengesankan
Dengan 27 negara anggota dan populasi sekitar 450 juta jiwa, Uni Eropa merupakan perekonomian terbesar ketiga di dunia, dengan PDB sebesar 19,4 triliun USD.
Selama 35 tahun terakhir, terhitung sejak peresmian hubungan diplomatik pada 28 November 1990, hubungan antara Uni Eropa dan Vietnam telah mengalami kemajuan yang signifikan dan mengesankan dari upaya-upaya kerja sama awal dengan skala kecil. Hingga kini, Vietnam menjadi salah satu mitra terpenting bagi Uni Eropa.
Yang patut diperhatikan, di bidang kerja sama ekonomi, keberhasilan Perjanjian Perdagangan Bebas Vietnam-Uni Eropa (EVFTA) menjadi model di kawasan. EVFTA telah berhasil meningkatkan nilai perdagangan bilateral sebesar 40% dalam waktu lima tahun sejak mulai berlaku pada tahun 2020.
Saat ini, Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar keempat (setelah Tiongkok, Amerika Serikat dan Republik Korea), sekaligus pasar ekspor terbesar ketiga, dan pasar impor terbesar kelima bagi Vietnam. Sementara itu, Vietnam merupakan mitra dagang terbesar bagi Uni Eropa di ASEAN.
Kerja sama di bidang sains teknologi dan inovasi kreatif merupakan pilar kerja sama baru antara Vietnam dan negara-negara anggota Uni Eropa. Pada tahun 2025, Vietnam dan negara-negara anggota Uni Eropa telah menandatangani beberapa kesepakatan, seperti: Kemitraan strategis dalam kerja sama sains teknologi dan inovasi kreatif antara Vietnam dan Swedia; MoU tentang kerja sama transformasi digital dan ekonomi digital antara Vietnam dan Estonia; Perjanjian kerja sama di bidang sains teknologi dan inovasi kreatif antara Vietnam dan Prancis.
Uni Eropa juga memprioritaskan pendorongan kerja sama dengan Vietnam di bidang pembangunan hijau dan berkelanjutan, serta penanggulangan perubahan iklim. Saat ini Uni Eropa sedang melaksanakan beberapa proyek di Vietnam dalam kerangka Inisiatif Pintu Gerbang Global. Duta Besar (Dubes) Uni Eropa untuk Vietnam, Julien Guerrier, menilai:
Selama 35 tahun terakhir, hubungan antara Uni Eropa dan Vietnam telah berkembang dan saat ini menjadi salah satu hubungan yang paling kuat, intensif dan ekstensif. Kerja sama ini terwujud dalam berbagai aspek dan mencakup berbagai bidang, mulai dari ekonomi, perdagangan, investasi, pembangunan yang berkelanjutan, hingga pertahanan, keamanan, diplomasi, dan silaturahmi rakyat.
Meningkatkan hubungan secara substansial dan komprehensif
Di tengah berbagai gejolak geopolitik di dunia, kunjungan resmi Presiden Dewan Eropa, António Costa ke Vietnam menyampaikan pesan kuat tentang hubungan perdagangan yang terbuka, bebas dan berdasarkan hukum. Menurut Dubes Uni Eropa untuk Vietnam, Julien Guerrier, Uni Eropa menginginkan agar hubungan kerja sama antara kedua pihak di masa mendatang dipererat dan diperkuat di ketiga pilar utama yaitu: perdagangan, transformasi hijau dan perdamaian-keamanan.
Selain itu, kedua pihak berencana untuk memperkuat kerja sama di bidang-bidang baru seperti transformasi digital, inovasi kreatif, sains teknologi (AI, semikonduktor...), penelitian, pendidikan, dan silaturahmi rakyat. Hal ini dipandang sebagai langkah selanjutnya untuk membawa hubungan Uni Eropa-Vietnam ke era kerja sama baru yang lebih substansial dan komprehensif.
“Momen ini menandai era baru bagi kedua belah pihak. Dan untuk menyambut transisi ini, kedua belah pihak telah sepakat untuk meningkatkan hubungan bilateral menjadi komprehensif dan strategis. Hal ini menunjukkan kuat dari keinginan Uni Eropa untuk mendorong kerja sama, dan Vietnam merupakan negara pertama di antara 10 negara ASEAN yang hubungannya ditingkatkan oleh Uni Eropa. Jelaslah bahwa peningkatan hubungan ini merupakan langkah perintis sekaligus model, yang membantu kedua belah pihak memperluas kerja sama ke berbagai bidang lainnya.
Selama lebih dari 35 tahun terakhir, hubungan kemitraan Vietnam-Uni Eropa berkembang secara intensif dan ekstensif. Kunjungan resmi Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa ke Vietnam akan berkontribusi untuk memenuhi kepentingan kedua belah pihak, membangun kerangka hubungan kemitraan baru yang lebih komprehensif dan mendalam, serta menjadi salah satu model teladan bagi hubungan antara Asia dan Eropa.