Pelabuhan Hai Phong (Ilustrasi) (Foto: VNA) |
Bank HSBC dan Standard Chartered secara bersamaan menaikkan proyeksi pertumbuhan Produk Bruto Domestik (PDB) Vietnam ke 7,9 persen dan 7,5 persen, lebih tinggi dua poin persen dibandingkan dengan prakiraan sebelumnya. Demikian pula, pada awal bulan Oktober, sejumlah organisasi internasional besar seperti Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (WB) dan Bank Pembangunan Asia (ADB) juga menaikkan prakiraan pertumbuhan ekonomi Vietnam. Mereka menilai ini sebagai “titik cerah yang jarang dalam mempertahankan laju stabilitas” di tengah situasi ekonomi dunia yang penuh gejolak.
Menurut Standard Chartered, terdapat tiga faktor utama yang membantu Vietnam mempertahankan laju pertumbuhan yang stabil, yaitu perdagangan yang stabil, arus modal investasi asing langsung (FDI) yang berkelanjutan, serta pemulihan daya beli lokal. Di antaranya, FDI terus menjadi titik cerah dalam perekonomian.
Sementara itu, menurut HSBC, Vietnam “sedang menjadi pilihan strategis dalam proses restrukturisasi rantai nilai global”, berkat lingkungan makro yang stabil, kebijakan fiskal yang fleksibel dan infrastruktur industri cepat membaik.
Bank Dunia (WB) menyatakan bahwa Vietnam memiliki ranah geo-fiskal yang kuat berkat utang publik yang rendah dan stabilitas makro yang mantap. Kondisi ini menciptakan peluang dalam mendorong investasi publik berskala besar, guna menangani semua hambatan infrastruktur, menciptakan lapangan kerja dan menyebarkan efek investasi swasta.
Dari sudut pandang internasional, Vietnam saat ini sedang memasuki tahap perkembangan baru, di mana laju pertumbuhan tidak hanya menjadi tujuan utama, melainkan juga menjadi ukuran daya adaptasi dan kualitas penyelenggaraan. Pertumbuhan PDB dipertahankan di taraf 8 persen lebih pada triwulan III tahun 2025 dan prakiraan optimisme dari HSBC (7,9 persen) dan Standard Chartered (7,5 persen) menunjukkan bahwa tujuan 8,5 persen sepanjang tahun 2025 berangsur-angsur implementasi.

