Tonggak sejarah ini ditandai dengan penandatanganan yang bersejarah dengan penyaksian para pemimpin 10 negara anggota lainnya. Berbicara dalam upacara tersebut, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan bahwa penerimaan Timor Leste membawa makna baru bagi visi blok tersebut, yang mewakili tujuan jangka panjang untuk membangun komunitas regional yang damai, stabil, inklusif, dan sejahtera. Ia mengatakan bahwa posisi ini "melengkapi keluarga ASEAN, menegaskan kembali tujuan bersama kita dan rasa solidaritas regional yang mendalam", dan menekankan bahwa "pembangunan dan otonomi strategis Timor Leste akan menerima dukungan yang kuat dan berkelanjutan".
Timor Leste memperoleh kemerdekaannya pada tahun 2002, menjadi negara berdaulat pertama di abad ke-21. Pada tahun 2011, Timor Leste secara resmi mengajukan permohonan untuk bergabung dengan ASEAN. Studi kelayakan kemudian dilakukan untuk menilai kesiapan negara tersebut dalam hal stabilitas politik, kapasitas ekonomi, dan kesiapan kelembagaan. Pada tahun 2022, ASEAN memberikan status pengamat kepada Timor Leste, yang memungkinkannya menghadiri semua pertemuan ASEAN, termasuk KTT ASEAN dan forum-forum terkait.