Informasi tersebut disampaikan oleh perwakilan Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam Konferensi pers peluncuran Laporan Prospek Pembangunan Asia triwulan I/2026.
Menurut ADB, kuatnya aktivitas ekspor sebelum Amerika Serikat (AS) menyesuaikan tarif timbal balik, serta didukung oleh kebijakan yang suportif dan investasi yang stabil telah membantu ekonomi Vietnam tumbuh mantap tahun lalu. Namun, perubahan kebijakan perdagangan AS, konflik di Timur Tengah serta ketidakstabilan global yang lebih luas berpotensi membatasi eskpor dan arus modal investasi, sehingga meningkatkan tekanan terhadap prospek pertumbuhan pada tahun 2026. Shantanu Chakraborty, Direktur Nasional ADB untuk Vietnam menilai bahwa Pemerintah Vietnam telah merespons dengan cepat ganguan sumber pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah.
Dalam konferensi pers tersebut, Nguyen Ba Hung, Kepala ekonom ADB untuk Vietnam menyampaikan bahwa motor penggerak pertumbuhan 2026 berasal dari peningkatan investasi publik dan penerapan kebijakan moneter yang longgar. Meskipun FDI dan ekspor tetap menjadi motor penggerak utama bagi pertumbuhan, faktor eksternal yang merugikan, termasuk konflik di Timur Tengah dan kebijakan-kebijakan tarif AS mungkin akan berpengaruh terhadap arus modal investasi dan ekspor. Sementara itu, inflasi diperkirakan naik menjadi 4 persen pada 2026, kemudian turun menjadi 3,8 persen pada 2027.
