Mobil-mobil yang menunggu untuk diekspor di sebuah pelabuhan di Pyeongtaek, selatan Seoul, Republik Korea. Foto ilustrasi: Yonhap/VNA

Di Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja merupakan dua negara yang mencapai kesepakatan dengan tarif preferensial sebesar 19%. Pemerintah Thailand menganggap ini sebagai "kesuksesan besar" dalam mempertahankan stabilitas ekonomi dan kapasitas ekspor. Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet juga menyambut baik kesepakatan ini, menganggapnya sebagai "kabar terbaik" bagi perekonomian negaranya, yang sangat bergantung pada ekspor barang garmen murah.

Di Asia Timur Laut, Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba memberitahukan bahwa Tokyo akan terus mendorong kesepakatan perdagangan bilateral untuk mengurangi tarif 25% yang sedang berlaku terhadap mobil dan onderdil mobil Jepang yang diekspor ke AS. Sementara itu, Pemerintah Republik Korea telah mengadakan sidang darurat untuk menilai dampak tarif baru sebesar 50% terhadap produk tembaga impor yang dikenakan oleh AS. Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Republik Korea memberitahukan akan mengambil langkah-langkah untuk membantu badan usaha domestik dan mendorong diversifikasi pasar ekspor.

Sementara itu, Tiongkok, perekonomian terbesar kedua di dunia yang sedang melakukan negosiasi perdagangan dengan AS, telah menyatakan kekhawatiran yang mendalam. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, memperingatkan bahwa kebijakan-kebijakan perlindungan akan "merugikan kepentingan semua pihak".