Melalui tiga pidato pelantikan yang penuh dedikasi dari Presiden, Perdana Menteri, dan Ketua Majelis Nasional seluruh rakyat dapat melihat dengan jelas pola pikir tata kelola yang modern, ketegasan dalam eksekusi, dan antusiasme untuk bersama-sama menyelenggarakan pembangunan negara di masa depan.
Aspirasi Mengabdi: Rakyat sebagai Akar, Bangsa sebagai Prioritas
Kesamaan dalam pidato-pidato pelantikan tersebut terletak pada tingginya rasa tanggung jawab serta kesadaran mendalam akan kehormatan yang melekat pada kewajiban, di mana kekuasaan berjalan seiring dengan tanggung jawab. Sumpah suci yang diikrarkan di bawah bendera merah bintang kuning yang sakral, di hadapan Majelis Nasional, rakyat, dan seluruh pemilih di pelosok negeri, bukan sekadar seremonial belaka. Hal tersebut merupakan komitmen politik kepada Partai, Negara, dan rakyat: komitmen untuk bertindak demi kepentingan bersama, demi pembangunan negara, serta demi kehidupan rakyat yang sejahtera dan bahagia.
Benang merah yang merangkai intelektualitas dan keberanian para pemimpin tersebut adalah Aspirasi. Yakni aspirasi menuju Vietnam yang "kuat, sejahtera, makmur, beradab, dan bahagia" pada tahun 2045.
Dalam ketiga pidato pelantikan itu, para pemimpin menempatkan diri mereka pada posisi "mengabdi". Sekretaris Jenderal Komite Senteral Partai Komunis Vietnam (Sekjen KS PKV) sekaligus Presiden To Lam mengulangi filosofi “Rakyat sebagai Akar”, yang menegaskan bahwa tujuan akhir dari segalanya adalah agar rakyat dapat menikmati hasil pembangunan. Perdana Menteri Le Minh Hung berkomitmen untuk mewujudkan Pemerintahan yang "membina dan mengabdi", serta bersih dan bertanggung jawab. Sementara itu, Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man berjanji untuk "mendedikasikan seluruh kemampuannya" agar Majelis Nasional dapat menjalankan fungsinya secara optimal dalam membangun Negara hukum sosialis.
Konvergensi ini menciptakan sebuah kekuatan sinergis. Aspirasi para pemimpin yang menyatu dengan aspirasi 100 juta rakyat akan melahirkan semangat kebangsaan yang baru. Sebagaimana ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal dan Presiden To Lam pada upacara pelantikannya:
“Kita tidak boleh membiarkan negara tertinggal, tidak boleh membiarkan rakyat kehilangan peluang untuk berkembang; kita harus bertindak demi masa depan yang panjang dan gemilang bagi bangsa. Dengan dukungan dan bantuan dari sahabat-sahabat internasional, Vietnam pasti akan terus menuliskan babak-babak baru yang brilian dalam perjalanan pembangunannya, serta mencapai tujuan-tujuan strategis yang telah ditetapkan.”
Pembangunan Berbasis Sains dan Teknologi, Selaras dengan Tren Zaman
Dari esensi ketiga pidato pelantikan di ruang sidang parlemen, kesamaan yang paling menonjol adalah fokus pada pembangunan berbasis sains dan teknologi. Para pemimpin Negara, Pemerintah, dan Majelis Nasional masa bakti 2026 - 2031 mendefinisikan dengan sangat jelas peta jalan pembangunan melalui model-model tata kelola yang konkret dan selaras dengan tren masa kini.
Sekjen dan Presiden To Lam menegaskan prioritas untuk menciptakan ekosistem pembangunan baru, di mana "sains, teknologi, inovasi, dan transformasi digital menjadi motor penggerak utama." Ini adalah pergeseran pola pikir yang penting, dari pembangunan yang mengandalkan sumber daya alam menuju pembangunan yang berbasis pada kekayaan intelektual.
Di sisi lain, Perdana Menteri Le Minh Hung menetapkan "mandat pembangunan" yang penuh tantangan dengan target pertumbuhan PDB rata-rata di atas 10% per tahun. Angka ini tidak hanya mencerminkan ambisi, tetapi juga merupakan kristalisasi dari pemikiran strategis, sebuah kesadaran penuh bahwa hanya melalui pertumbuhan yan akseleratif, Vietnam dapat meraih kemandirian strategis dan meningkatkan posisinya di kancah global. Pemerintah menetapkan pengembangan sains-teknologi, inovasi kreatif, dan transformasi digital nasional sebagai terobosan prioritas, sekaligus motor penggerak utama untuk secara cepat mengembangkan kekuatan produktif modern dan meningkatkan produktivitas.
Setiap anggota Pemerintah dituntut agar perkataannya sejalan dengan perbuatan, menjalankan pemerintahan dengan pola pikir tata kelola modern, serta proaktif dan fleksibel dalam segala situasi guna menunaikan tanggung jawab besar di hadapan Partai dan rakyat dengan gemilang.
Ketua Majelis Nasional angkatan XVI, Tran Thanh Man, menekankan pentingnya pembaruan pemikiran legislasi, pembangunan "Majelis Nasional Digital", dan penerapan kecerdasan buatan (AI) agar perumusan kebijakan selalu selangkah lebih maju guna membuka jalan bagi pembangunan.
“Saya berjanji akan mendedikasikan seluruh kemampuan saya untuk mengabdi kepada Tanah Air dan rakyat; bersama Majelis Nasional, Komite Tetap Majelis Nasional, badan-badan Majelis Nasional, serta para anggota dewan untuk terus berinovasi, mendorong penerapan sains dan teknologi dan inovasi kreatif, Majelis Nasional digital, serta kecerdasan buatan guna meningkatkan kualitas dan efektivitas kinerja. Perkataan harus sejalan dengan perbuatan—bertindak segera, bertindak tepat, bertindak efektif, dan tuntas.”
Meski berada di ranah yang berbeda, semua pidato tersebut berkonvergensi pada satu titik yang sama: aspirasi untuk mendedikasikan diri, semangat mengabdi, dan tekad untuk berinovasi. Inilah arus yang mengalir secara konsisten, menciptakan kekuatan komprehensif dari seluruh sistem politik di era baru ini.
Sejarah telah membuktikan bahwa setiap periode pembangunan negara selalu berjalan beriringan dengan kebijakan yang tepat serta sosok-sosok yang berani berpikir, berani bertindak, dan berani bertanggung jawab. Dengan struktur aparatur yang telah disempurnakan, ditopang oleh konsensus yang tinggi dan tekad politik yang kuat, rakyat memiliki landasan yang kukuh untuk percaya bahwa "babak baru yang brilian" bagi negara ini akan terus dituliskan melalui intelektualitas, keberanian, dan aspirasi Vietnam.
